Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Januari 2015
On 1/07/2015 10:28:00 AM by KBM FT UNM in Aqidah No comments
Bismillah
Taklim Rutin Kajian Senin Sore
Alhamdulillah dikesempatan pekan ini salah seorang MSO/Alumni sekaligus masih senantiasa membimbing kami dalam dakwah kembali mengunjungi kami dan sempat membawakan taklim rutin senin sore. tema pekan ini ialah Kalender Hijriah Syiar Agamaku.
kami lampirkan audio kajian dibawah dengan mengharap ridho Allah subhana wata'ala,
mp3 type--->[Ust.Abu Muhammad Risaluddin Hafidzahulloh - Kalender Hijriah Syiar Agamaku]
amr lower type--->[Ust.Abu Muhammad Risaluddin Hafidzahullo - Kalender Hijriah Syiar Agamaku]
Taklim Rutin Kajian Senin Sore
Alhamdulillah dikesempatan pekan ini salah seorang MSO/Alumni sekaligus masih senantiasa membimbing kami dalam dakwah kembali mengunjungi kami dan sempat membawakan taklim rutin senin sore. tema pekan ini ialah Kalender Hijriah Syiar Agamaku.
kami lampirkan audio kajian dibawah dengan mengharap ridho Allah subhana wata'ala,
mp3 type--->[Ust.Abu Muhammad Risaluddin Hafidzahulloh - Kalender Hijriah Syiar Agamaku]
amr lower type--->[Ust.Abu Muhammad Risaluddin Hafidzahullo - Kalender Hijriah Syiar Agamaku]
Kamis, 01 Januari 2015
On 1/01/2015 11:25:00 PM by KBM FT UNM in Aqidah No comments
Berawal dari dalam kandungan ibu kita, dimana kita berada dalam tiga fase
kegelapan, kemudian dijadikan kita bentuk makhluk berupa manusia yang dimulai
dengan diciptakannya pendengaran kita, hal ini menunjukkan bahwa kita harus
memulai belajar dengan mendengar, lebih banyak mendengar (pen. Menerima
nasehat) daripada berbicara, dan tentu kesemuanya indra berikutnya yang perlu
kita pahami sebagai alat untuk kita mendekatkan diri kelak kepada Allah Subhana
Wata’ala.
Para salaf itu, diantara para imam banyak diantara mereka yang cacat/memiliki
kekurangan dalam indra-indra mereka, namun mereka : menghafal Al-Qur’an,
menghafal kitab-kitab hadist, menjadi imam besar di zamannya. Maka kita yang
memiliki kesemua indra kita hendaknya senantiasa mempergunakan indra itu dalam
kegiatan-kegiatan yang meningkatkan ketaatan kepada Allah Subhana Wata’ala.
Selanjutnya, Allah Subhana Wata’ala menciptakan kita lahir di muka bumi ini la ta’lamuna syai’a tidak
mengetahui apa-apa. Di bumi kita hidup 60-70 tahun saja, atau kurang, atau
lebih, namun sedikit yang demikian sebagaimana sabda Nabi Shalllallahu’alaihi
Wasallam. Di bumi ini kita hidup kadang mengalami kesenangan kadang juga
kesedihan, begitulah kehidupan dunia yang Allah Subahan Wata’ala ciptakan.
Dalam Al-Qur’an Surah An-Nur ayat ke-dua Allah Azza Wajall berfirman “untuk menguji kamu,
siapa dinatara kamu yang lebih baik amalnya.”. kadang kita menginginkan
sesuatu dan kadang sangat ingin hal itu, namun itu dilarang oleh Allah Subhana
Wata’ala, ataukah sebaliknya, namun seperti itulah kehidupan dunia. Dalam
sebuah hadist Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam “Surga diapagari
dengan apa-apa yang tidak disenagni oleh jiwa manusia,dan neraka dipagari oelh
apa-apa yang disenangi oleh manusia”(HR.Bukhari&Muslim).
Fase perjalanan berikutnya yang akan dilalui oleh manusia, ialah alam barzah.
Fase berikutnya ini jauh lebih panjang dari fase sebelumnya, Karen akan
berlangsung sampai hari kiamat dan dimulai dari kematian. kematian, suatu
kejadian yang mejadi nasehat buat kita semua. Ada orang yang duduk-duduk ia
tidak bisa bangkit lagi, ada orang yang tiduran ia tidak bisa membuka mata
lagi, itulah kematian, ia tidak mengenal tua muda, kaya miskin. Alam barzah,
alam dimana kita tidak bisa kembali ke dunia dan tidak bisa juga mempercepatnya
hingga hari kiamat. Orang yang dzalim kelak akan berkata percepat hari kiamat
dikarenakan perihnya siksaan yang didapat di alam barzah, sedangkan orang
beriman akan minta juga dipercepat hari kiamat karena dia tahu bahwa aka nada
kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari apa yang telah ia dapatkan di alam
barzah. Di alam barzah juga setiap kita akan berjupa dengan satu malaikat yang
akan menyakankan kita tentang beberapa perkara penting, ialah malaikat mungkar,
malaikat yang asing, kita tidak tahu siapa dia, sebagaimana dalam bahasa,
mungkar berarti sesuatu yang asing, untuk itu segala sesuatu yang bukan dari
fitrah kita, bukan dari islam, itu adalah perkara yang mungkar. Namun, ada
beberapa yang di alam barzah nya tidak akan ditanya tentang tiga perkara
penting itu, salah satu diantaranya adalah para Nabi dan Rasul, para syuhada,
anak kecil yang belum sempat baligh.
Alam terakhir yang akan kita lalui ialah alam akhirat, alam dimana kita akan
memanen apa yang telah kita tanam. In ahsantum ahsantum lianfusikum
[al-isro’:7]
Wallahu ‘alam [ilham|catatan taklim rutin kajian
tauhid by ustadz Anwar paeno hafidzahulloh]
Senin, 24 Maret 2014
Setiap muslim ada yang mengalami masa semangat dan
ada yang mengalami rasa malas. Namun ada rasa malas yang tercela dan ada yang
masih terpuji. Dan rasa malas yang datang ini sifatnya naluri yang bisa jadi
ditemukan ketika beramal atau ketika kita menuntut ilmu.
Setiap Orang Bisa Futur (Kendor Semangat)
Sesungguhnya dosa-dosa itu punya bahaya terhadap hati, badan, agama dan akhirat, sebagaimana akan kita lihat di dalam pembahasan kali ini. Allah subhanah wata’ala berfirman:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).”[TQS.Asy-Syura’:30]
Beberapa waktu yang lalu LDF Raudhatul Mujaddid telah melaksanakan Kajian Buku dari rangkaian Kegiatan Muktamar dengan mengangkat tema : Selamtkan Hati dari Tipu Daya Syaitan ; mengkaji buku Gizi Hati Karya/karangan Syaikh DR. Ahmad Farid. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Ahad 7 Jumadil Ula 1435H / 9 Maret 2014 ini memenuhi masjid Ulil Albab UNM Parangtambung, sekitar ratusan peserta kajian buku cukup antusias mendengarkan materi yang dibawakan oleh Ust. Taufan Djafri.
Buku yang dikaji merupakan salah satu buku yang terbaik mengenai Tazkiyatun Nufs, Gizi Hati yang judul aslinya Al Bahrur Raiq. Buku itu bertutur secara mendalam tentang hati, dan bagaimana
menjaganya agar tidak terkotori. Bagian demi bagian memberikan
pengingatan yang sangat berharaga bagi kita yang sering dibuat lelah
mengejar dunia.
Buku ini menjadi buku terbaik karena didalamnya betul-betul jernih yang dimana disebutkan bahwa didalam buku ini jauh dari dalil-dalil yang tidak shahih sehingga menjadi samudera yang jernih untuk kita menyelami ilmu tazkiyatun nufs.
Dr. Ahmad Farid menggambarkan hati bagi
anggota badan ibarat raja yang mengendalikan seluruh prajurit. Apa pun
yang ke luar dari anggota badan adalah hasil instruksi hati sehingga
hati bisa mempergunakan anggota badan kepada sesuatu yang
dikehendakinya. Darinya, anggota badan akan lurus dan tersesat. Anggota
badan pun akan mengikuti tekad yang telah diikat atau dilepaskan oleh
hati.
Hati ibarat raja bagi anggota badan sehingga
anggota badan melaksanakan apa yang diinstruksikan hati. Ia menerima
bimbingan yang datang dari hati. Amal perbuatannya tidak akan lurus
sebelum ia ke luar dari tujuan dan niat hati. Hati bertanggung jawab
atas semua amal perbuatan anggota tubuh. Karena setiap pemimpin
bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Milikilah hati yang selalu berusaha
menyerahkan diri secara totalitas kepada Tuhan dalam setiap gerak dan
diamnya. Dengan itu hati akan menjadi bersih dan lurus, terhindar dari
ketertipuan, kesesatan dan kejahatan.
Semoga Allah berkenan menjaga dan membersihkan hati kita dari segala kekotoran. Amin.
Jumat, 15 November 2013
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga
terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Hari Jum’at merupakan hari yang mulia. Bukti kemuliaannya, Allah
mentakdirkan beberapa kejadian besar pada hari tersebut. Dan juga ada beberapa
amal ibadah yang dikhususkan pada malam dan siang harinya, khususnya
pelaksanaan shalat Jum’at berikut amal-amal yang mengiringinya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari
Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga
ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. . . .
" (HR. Abu Dawud, an Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits
Aus bin Aus)
Pada dasarnya, tidak dibolehkan menghususkan ibadah tertentu pada
malam Jum’at dan siang harinya, berupa shalat, tilawah, puasa dan amal lainnya
yang tidak biasa dikerjakan pada hari-hari selainnya. Kecuali, ada dalil khusus
yang memerintahkannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu
'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda;
“Janganlah
menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya,
dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari
hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh
salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan
Ahmad)
berikut sunnah-sunnah di hari jumat.
Yuk ilmui lalu amalkan,
1. Memperbanyak Sholawat Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”(Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)
2. Mandi Jumat
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
3. Menggunakan Minyak Wangi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid
Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)
5. Sholat Sunnah Semampunya
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
6. Mendengarkan Khotbah Jum'at
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat
Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)
8. Membaca Surat Al Kahfi
“Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jum’at, Allah akan menerangi untuknya sebuah cahaya antara dirinya dan Al-Bait Al-‘Atîq (Ka’bah).” Diriwayatkan oleh Ad-Darimy, Al-Baihaqy
1. Memperbanyak Sholawat Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”(Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)
2. Mandi Jumat
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
3. Menggunakan Minyak Wangi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid
Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)
5. Sholat Sunnah Semampunya
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
6. Mendengarkan Khotbah Jum'at
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat
Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)
8. Membaca Surat Al Kahfi
“Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jum’at, Allah akan menerangi untuknya sebuah cahaya antara dirinya dan Al-Bait Al-‘Atîq (Ka’bah).” Diriwayatkan oleh Ad-Darimy, Al-Baihaqy
Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya
pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Berikut ini kami sebutkan
beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.
1. Dari
Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka
dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq."
(Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta
dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)
2. Dalam
riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu,
"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka
akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim:
2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij
al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah
hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya
dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)
3. Dari
Ibnu Umar radhiyallahu
'anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
“Siapa
yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari
bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan
diampuni dosanya antara dua jumat.”
Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin
Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab
at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”
Wallahu muwaffiq,
Takeit from voa-islam
Selasa, 12 November 2013
On 11/12/2013 06:55:00 AM by KBM FT UNM in Aqidah No comments
MUHARRAM: Runtuhnya Syi'ah Persia di Karbala, Qadisiyah, dan Nahawand
Kali ini, Syi'ah Persia benar-benar hancur lebur. Di negara yang sama dan di bulan yang sama pula. Bagaimana ceritanya?
Semua kita barangkali sangat familier dengan Perang Qadisyiah dan Perang Nahawand sama seperti peristiwa syahidnya cucu kesayangan Rasulullah Husain ibn Ali di Karbala.
Perang Qadisiyah
Perang Qadisiyah juga terjadi di Bulan Muharram 14 H, di Qadisiyah sebelah selatan Karbala.
Kali ini, Syi'ah Persia benar-benar hancur lebur. Di negara yang sama dan di bulan yang sama pula. Bagaimana ceritanya?
Semua kita barangkali sangat familier dengan Perang Qadisyiah dan Perang Nahawand sama seperti peristiwa syahidnya cucu kesayangan Rasulullah Husain ibn Ali di Karbala.
Perang Qadisiyah
Perang Qadisiyah juga terjadi di Bulan Muharram 14 H, di Qadisiyah sebelah selatan Karbala.
Peristiwa ini dimulai sejak 1 Muharram saat Khalifah Umar ibn Khattab
bersama tentara muslimin berkumpul di Shirar. Beliau menegaskan azam
akan memerangi Persia. Atas nasehat dan saran dari sahabat, maka
diutuslah Sa'd ibn Abi Waqqash sebagai panglima kaum muslimin dalam misi
ini.
Dalam perang ini, panglima Perang Persia bernama Rustum tewas dengan lebih 100 bekas tebasan di tubuhnya.
(Tarikh Thabari: jilid III, h. 479- 497 )
Perang Nahawand
Perang ini dikenal dengan Fath al-Futuh (Gerbang Penaklukan). Terjadi di bulan Muharram 19 H. Masih di zaman Khalifah Umar ibn Khattab. Panglima perang kaum muslimin kali ini adalah Nu'man ibn Muqrin.
Perang Nahawand
Perang ini dikenal dengan Fath al-Futuh (Gerbang Penaklukan). Terjadi di bulan Muharram 19 H. Masih di zaman Khalifah Umar ibn Khattab. Panglima perang kaum muslimin kali ini adalah Nu'man ibn Muqrin.
Setelah runtuhnya benteng pertahanan Persia di Nahawand, maka satu
persatu kota-kota jajahan Persia berhasil ditaklukkan. Hingga seluruh
Persia tunduk di bawah Khilafah Islamiyah, yang dipimpin oleh Umar ibn
Khattab radhiyallahu 'anhu.
Peristiwa Karbala
Hari itu, tepatnya Jum'at , 10 Muharram 61 H. Cucu kedua Rasulullah Husain ibn Ali syahid di Karbala. 20 ribu Syi'ah Irak yang mengundang beliau ke Irak, dan berjanji akan membai'atnya telah mengkhianati beliau. Tak satu pun batang hidung mereka kelihatan di Karbala. Agar sejarah kembali menorah catatan hitam dalam lembar-lembar sejarah Syi'ah Persia.
Catatan:
Peristiwa Karbala
Hari itu, tepatnya Jum'at , 10 Muharram 61 H. Cucu kedua Rasulullah Husain ibn Ali syahid di Karbala. 20 ribu Syi'ah Irak yang mengundang beliau ke Irak, dan berjanji akan membai'atnya telah mengkhianati beliau. Tak satu pun batang hidung mereka kelihatan di Karbala. Agar sejarah kembali menorah catatan hitam dalam lembar-lembar sejarah Syi'ah Persia.
Catatan:
Ternyata ,Muharram adalah bulan keruntuhan dan kehancuran Majusi
Persia. Di bulan ini pula, Syi'ah Irak menkhianati salah seorang cucu
Rasulullah, yakni Husain radhiyallahu 'anhu. Dengan demikian,
sempurnalah silsilah kehancuran Syi'ah-Persia.
Selama ini kita bertanya-tanya , mengapa peringatan Muharamm Syi'ah selalu berdarah-darah?
Selama ini kita bertanya-tanya , mengapa peringatan Muharamm Syi'ah selalu berdarah-darah?
Sepertinya fakta sejarah ini menambahkan wawasan baru bagi kita. Bulan
Muharram adalah bulan kehncuran bagi Imperium Persia Raya. Dan tiada
peristiwa yang menimpa ahlul bait di bulan ini, selain peristiwa
syahidnya Husain ibn Ali Radhiyallahu 'anhu. Maka, mereka mengenang
kehancuran imperium Persia, sekaligus merayakan wafatnya cucu Rasulullah
berkat pengkhianatan mereka.
Sekali tepuk dua lalat. Kehancuran Persia diperingati, dan simpati kaum muslimin diraih dengan perayaan wafatnya Husain radhiyalahu 'anhu.
Insya Allah, Neo Imperium Persia akan segera hancur lebur, sebagaimana leluhur mereka dulunya hancur. Biiznillah!
Sekali tepuk dua lalat. Kehancuran Persia diperingati, dan simpati kaum muslimin diraih dengan perayaan wafatnya Husain radhiyalahu 'anhu.
Insya Allah, Neo Imperium Persia akan segera hancur lebur, sebagaimana leluhur mereka dulunya hancur. Biiznillah!
takeit from : lppimakassar.com
Kamis, 26 September 2013
Air susu dibalas air
tuba katanya. Huh… mau diapakan orang seperti ini?
Sadar Dulu
Sebelum kamu memutuskan
untuk membalas dendam, cobalah renungkan kembali perkara penting berikut ini.
Cobalah sadari bahwa kamu sebenarnya tidak hidup di dunia sendirian. Benar
bukan? Ada banyak manusia yang hidup disekitar kamu. Nah, siap hidup di
tengah-tengah manusia maka harus siap pula kalau suatu saat terjadi benturan
pemikiran, kepentingan dan masalah dengan orang lain. Karena manusia
berbeda-beda dalam pikiran, moral dan prilaku, kebiasaan dan adat. Jadi wajar
saja bila kamu akan menemukan konflik, atau kadang disakiti, dicurigai bahkan
dihina oleh orang lain. Jadi jangan terburu melampiaskan kemarahan dan dendam
pada orang lain. Pahami juga bahwa ada unsur lain yang juga ikut
“ngipas-ngipasi” perseturuanmu dengan orang lain. Dulu nabi Shallallahu ‘alaihi
Wasallam pernah bersabda
“Setan mengalir dalam tubuh anak adam bersama mengalirnya
darah di dalam pembuluhnya” (riwayat Al Bukhari)
Kalau kamu buru-buru
marah dan balas dendam sama artinya memberikan kemenangan pada setan yang sudah
merencanakan dan memprovokasi kamu berdua. Bias-bisa setan akan tertawa
kegirangan melihat kamu berdua yang sama-sama muslim berkelahi karena masalah
sepele.
Jadi, jalan terbaik
untuk mengalahkan setan adalah menahan
diri dari terburu-buru marah. Syukur-syukur kamu segera melakukan hal kedua
yang bias menDROP OUT(DO) setan
dalam masalah ini. yaitu segera memberikan maaf pada temanmu yang salah tadi.
Emm, bila kamu benar-benar mampu menahan marah, mengendalikan diri dan tak
membalas berarti kamu menyimpan energy dahsyat dalam dirimu. Energy ini akan
semakin membuatmu semakin kuat dan
tambah kuat bila semakin dilatih dan diasah. Ya, inilah orang yang kuat
dan penuh energy sejati. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi Wasallam
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam gulat,
namun orang yang kuat sebenarnya adalah orang yang mampu menguasai dirinya di
saat marah.”(muttafaq alaih)
Nah, benar kan? Orang
yang mampu mengangkat besi seberat 10 kilogram atau 20 kilogram memang disebut
kuat secara fisik, tapi belum bias dikatakan sebagai manusia terkuat. Manusia
yang kuat dan penuh energy adalah orang yang sanggup menahan diri dari
melampiaskan kemarahannya. Tidak terburu membalas orang yang berbuat buruk pada
kita, atau kerabat kita.
Gaya orang besar VS Anak Manja
Coba kita lihat karakter
manusia-manusia istimewa dan penuh energy seperti umar bin Khattab. “Kullun
naasi minni fi hillin” katanya. Semua orang terhadapku sudah kuhalalkan, begitu
kurang lebih artinya. Dia maafkan muslim manapun, termasuk yang pernah berbuat
buruk terhadapnya. Kamu sudah seperti ini atau belum, tanyakan pada dirimu
masing-masing.
Orang-orang berkarakter
seperti umar inilah yang kuat dan penuh energy. Sebaliknya orang yang selalu
melampiaskan dendam dan kemarahannya itu kenaka-kanakan banget. Misalnya
gara-gara ibu tidak ngasih uang jajan atau tidak dibelikan motor-motoran si
anak merajuk, ngambek dan ogah makan. Balas dendam ala si kecil.
Sang pendendam tidak ada
bedanya dengan si anak manja ini. Walau badan sudah gedhe,umur semakin tua
namun bila tak bias menahan kemarahan dan dendam maka dia tidak ada bedanya
dengan anak manja tadi. Saudaraku yang ku cintai karena Allah, enggak suah
nunjuk-nunjuk orang lain tentang masalah ini, namun setiap kita memang harus
senantiasa mengoreksi diri, setuju?
Karakter buruk pemarah
tidak ditemukan pada manusia-manusia besar, pemilik jiwa-jiwa teladan dan
pemimpin sejati. Mereka tidak menganggap kemarahan dan dendam sebagai bentuk
keberhasilan apalagi kesuksesan dalam hidup. Tapi sukses besar menurut ‘manusia
besar’ adalah memberikan maaf pada orang lain. Manusia besar akan selalu ingat
pada keberuntungan gedhe yang disebutkan dalam ayat yang artinya,
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah
(kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu
dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia. Sifat-sifat baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang
yang sabar dan tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai
keberuntungan yang besar. (Fussilat : 35)
Yaitu balaslah keburukan
dengan kebaikan. Balas saja kejelekan dengan kebaikan, kesalahan dengan
kemaafan, kemarahan dengan kesabaran.
Dengan cara yang lebih
baik di sini diantaranya dengan mengucapkan salam apabila berjumpa dengan orang
yang memusuhi, atau ada juga yang berjabat tangan apabila bertemu. Demikian
kata Mujahi dan Atha’, dua ulama besar di amas tabi’in.
Ternyata memaafkan tidak
membuat hati jadi sumpek dan pikiran kusut atau dahi berkerut. Bahkan
sebaliknya, memaafkan malahn membuat hati lebih longgar dada lebih lebar dan
semua urusan jadi kelar. Bahkan orang yang memusuhimu pun akan jadi sadar. “Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan
antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”
Musuh bebuyutan tujuh
turunan pun bias menjelma menjadi teman yang kelewat akrab. Luar biasa bukan?
Keberuntungan orang yang
gemar memaafkan belum lagi usai. Ia akan
dijanjikan pahala besar oleh Allah, dan bias masuk surge yang penuh dengan
kenikmatan.
Sukses besar ini tak
pernah diaraih oleh orang-orang yang memiliki sifat pemarah, hobi membenci
apalagi suka balas dendam.
Kamulah yang Mulia
Keberuntungan bersifat
memaafkan belum ada habis-habisnya. Orang yang gemar memaafkan akan semakin
mulia di sisi Allah. Jangan lupa, kalau seseorang sudah mulia di sisi Allah
pasti ia akan jadi mulia juga di tengah-tengah manusia. Ia nggak bahkan kalah tinggi
dibandingkan para pejabat, konglomerat atau pesawat (?). karena manusia
memuliakan dan mencintai manusia dengan hatinya tidak sekedar badannya.
“Tidaklah Allah menambah pada seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan. Dan
tidaklah seorang rendah hati karena Allah kecuali Allah akan meninggikan orang
tersebut” (Riwayat Muslim)
Salah satu bentuk
tawadhu’-kerendahan hati- adalah dengan memberikan maaf pada orang lain. Bahkan
memaafkan merupakan bentuk kerendahan hati yang teristimewa. Selamat,berbahagiahlah
dan sukses dengan pemeberian maafmau.Kamu hebat!
[dikutip dari majalah
Elfata edisi 12 volume 11 2011,iam]
[download buletin]Minggu, 18 November 2012
Perkembangan syiah yang kian hari kian melesat sangat perlu untuk diwaspadai. Syiah, mirip buah kedondong, luarnya halus dalamnya kasar. Di setiap daerah ahlussunnah (baca; islam) yang berkembang syiah di dalamnya, pasti akan kacau. Yakinlah! Syiah begitu berbahaya.
Waspadai Media pro-Syiah!
Mereka memicu kerusuhan di daerah-daerah basis ahlussunnah, misalnya saja di Suriah, Yaman dan Mesir. Media-media yang kita baca maupun tonton berasumsi bahwa kerusuhan-kerusuhan tersebut akibat adanya instabilitas politik. Sekali-kali tidak! Itu konflik agama! Syiah yang ‘kerjaannya’ mencela sahabat-sahabat Nabi itu telah memicu semangat pembelaan di dalam dada kaum muslimin yang masih punya ghirah(kecemburuan) terhadap agamanya. Kaum muslimin tidak rela jika para sahabat dicaci maki. Mereka para sahabat yang telah direkomendasikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya dilecehkan dan dihina dengan penghinaan yang sangat rendah oleh setan-setan tersebut(baca; syiah tersebut). Allah telah merekomendasikan para Sahabat radhiallohu ‘anhum ajma’in sebagaimana firman-Nya:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah Menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung” (QS.At Taubah : 100)
Sayang, banyak kaum muslimin yang terkecoh dan mempercayai media-media tersebut yang notabene dimiliki oleh orang liberal (meskipun ngakunya muslim) bahkan orang kafir yang benci islam. Pemilik media yang sudah dari sononya benci kepada islam tentu akan memberitakan hal-hal yang tidak berpihak kepada islam. Jadilah islam diidentikkan sebagai agama yang melanggar HAM, agama teroris dan sejuta anggapan lain yang tidak tepat disematkan pada islam dan kaum muslimin. Anggapan bahwa syiah merupakan salah satu madzhab dalam islam, pun disebarluaskan melalui media-media ini. Akhirnya, banyak kaum muslimin yang terprovokasi dan ikut-ikutan menganggap syiah ini adalah bagian dari Islam padahal islam yang mulia ini berlepas diri dari syiah.
Sebenarnya, syiah itu apa?
Apa itu syiah? Jika ada yang bertanya padamu tentang apa itu syiah, tak perlu kau jawab dengan panjang lebar, cukup jawab saja bahwa syiah adalah agamanya orang-orang yang suka mencela sahabat nabi, titik. Jika yang bertanya adalah seorang muslim yang masih lurus fitrahnya dan masih sehat akalnya tentu akan muncul rasa jengkel dan benci di dalam dadanya terhadap agama syiah ini. Ia pun akan mulai berhati-hati dengan syiah ini serta mengajak keluarganya untuk berhati-hati. Begitulah jawaban kita kepada orang awam jika ada yang bertanya.
Saya terkenang saat awal-awal saya mendengar kata “syiah”. Saat itu saya berada pada kelas tiga SMA. Suatu kali, guru agama saya mengamanahkan kepada kelompok saya untuk mempresentasikan perkembangan islam di Rusia. Untuk melengkapi referensi, saya pun surfing di internet untuk mencari tahu tentang perkembangan islam di Rusia, ternyata hanya sedikit informasi yang bisa saya dapatkan. Di antara yang sedikit itu, ada pernyataan bahwa penduduk muslim di rusia mayoritas sunni dan sebagian kecilnya syiah. Sunni dan syiah, dua kata yang asing bagi saya. Akhirnya, pada malam hari sebelum saya tampil untuk membawakan materi diskusi, saya mencoba menelepon salah seorang guru fisika di sekolah saya yang saya kenal bahwa beliau aktif di lembaga keislaman. Tujuan utama saya menelpon adalah untuk menanyakan apa itu sunni dan syiah. Jujur, saat ini saya sudah lupa apa yang beliau ucapkan malam itu melalui telepon tentang sunni dan syiah namun ada kata kunci yang teringat dengan jelas dalam kepalaku hingga hari ini yakni, “sunni itu ahlussunnah, ya kita-kita ini”.
Saat diskusi esok harinya, saya pun membawakan materi, saat menyinggung tentang sunni dan syiah saya hanya mengucapkan seperti apa yang disampaikan oleh guru saya tadi, “sunni itu ahlussunnah, ya kita-kita ini”. Beruntung, hingga akhir diskusi tidak ada yang bertanya lebih jauh tentang apa itu sunni dan syiah, jika ada, pastilah saya tak dapat menjawabnya atau mungkin menjawab asbun (asal bunyi) bin sota (sok tahu).
Ringkas, namun kata-kata itu terngiang hingga kini. Kupegang erat kata-kata tersebut. Saat kaki ini menginjak dunia kampus yang di dalamnya berseliweran banyak pemahaman islam mulai dari yang lurus, bersih dan masih berpegang dengan qur’an dan sunnah sesuai pemahaman sahabat sampai yang sesat dan menyesatkan, semuanya ada di dunia kampus. Istilah ‘syiah’ dan ‘sunni’ semakin sering kudengarkan di kampus. Pengetahuanku tentang syiah ini memang masih belum bertambah, tapi kata-kata dari guruku tadi selalu kupegang, bahwa kita ini sunni. Alhamdulillah, Allah masih menjagaku hari ini sebagai seorang Ahlussunnah dan insya Allah inilah yang akan kuyakini sampai mati.
Pelajaran Lain
Apa yang bisa kita kita ambil dari kisah di atas?
Pertama, apa yang pertama kali disampaikan kepada kita itulah yang paling membekas dalam ingatan kita dan itulah yang menjadi doktrin dalam diri kita. Jawaban sang guru, “sunni itu ahlussunnah, ya kita-kita ini” menjadi doktrin tersendiri dalam jiwa saya.
Coba bayangkan, andaikan saat itu, guru saya tersebut menjawab “syiah itu ya kita-kita ini”. Mungkin saya akan menjadi seorang syi’i (pengikut syiah) atau paling tidak, menjadi orang yang mendiamkan syiah dengan semua pencelaan yang mereka lakukan kepada sahabat. Mengapa? Karena yang paling pertama tertanam dalam kepala saya adalah bahwa syiah itu tidak berbahaya sehingga tidak ada yang perlu diwaspadai dari syiah ini, toh guru yang saya pandang baik itu orang syiah juga. Na’udzu billaahi min dzalik.
Kedua, pentingnya kita menyampaikan kepada masyarakat akan bahaya syiah ini (yang selalu menjelek-jelekkan para sahabat nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) agar masyarakat kita tidak ikut-ikutan latah membela mereka akibat ‘hasutan’ media yang keliru dalam memberitakan.
Sebagai wasiat, waspadalah Anda terhadap syiah, sampaikan kepada saudara, keluarga, sahabat, kenalan Anda serta kaum muslimin akan bahaya syiah yang selalu menjelek-jelekkan sahabat nabi. Semoga Allah menetapkan hati kita di atas kebenaran. Amin.
Makassar, 4 Muharram 1434/18-11-2013
AMR
Sabtu, 06 Oktober 2012
On 10/06/2012 07:01:00 AM by KBM FT UNM in Aqidah No comments
Definisi
Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhaanahu wata’ala.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)
Syariat dan Keutamaannya
Dalil yang menunjukkan disyariatkannya menyembelih hewan qurban adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama.
Adapun dari Al-Qur`an, di antaranya adalah firman Allah Subhaanahu wata’ala :
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Menurut sebagian ahli tafsir seperti Ikrimah, Mujahid, Qatadah, ‘Atha`, dan yang lainnya, النَّحْرُ dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan qurban.
Asy-Syinqithi Rahimahullaah dalam Adhwa`ul Bayan (3/470) menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa …. menyembelih hewan qurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.”
Juga keumuman firman Allah Subhaanahu wata’ala:
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahumullaah dalam kitab Fathur Rabbil Wadud (1/370) berhujjah dengan keumuman ayat di atas untuk menunjukkan syariat menyembelih hewan qurban. Beliau menjelaskan: “Kata الْبُدْنَ mencakup semua hewan sembelihan baik itu unta, sapi, atau kambing.”
Adapun dalil dari As-Sunnah, ditunjukkan oleh sabda beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan perbuatannya. Di antara sabda beliau adalah hadits Al-Bara` bin ‘Azib Radhiallaahu 'anh :
إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَـحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)
Di antara perbuatan beliau adalah hadits Anas bin Malik Radhiallaahu 'anh :
ضَحَّى رَسُولُ اللهِ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَـحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَـمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا
“Rasulullah berqurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca basmalah, bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5554 dan Muslim no. 1966, dan lafadz hadits ini milik beliau)
Adapun ijma’ ulama, dinukilkan kesepakatan ulama oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahumullaah dalam Asy-Syarhul Kabir (5/157) -Mughni-, Asy-Syaukani Rahimahullaah dalam Nailul Authar (5/196) dan Asy-Syinqithi rahimahumullaah dalam Adhwa`ul Bayan (3/470)1. Para ulama hanya berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya.
Adapun keutamaan berqurban, maka dapat diuraikan sebagai berkut:
Juga firman-Nya:
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah Subhaanahu wata’ala dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Subhaanahu wata’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhaanahu wata’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhaanahu wata’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya….”
Beliau mengatakan lagi: “Oleh sebab itulah, Allah Subhaanahu wata’ala menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 162)
Walhasil, shalat dan menyembelih qurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wata’ala….”
Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat….”
Hukum Menyembelih Qurban
Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah bahwa menyembelih qurban hukumnya sunnah muakkadah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah Radhiallaahu 'anh, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Apabila masuk 10 hari Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih qurban maka janganlah dia mengambil (memotong) rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim 1977/39)
Sisi pendalilannya, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasallam menyerahkan ibadah qurban kepada kehendak yang menunaikannya. Sedangkan perkara wajib tidak akan dikaitkan dengan kehendak siapapun. Menyembelih hewan qurban berubah menjadi wajib karena nadzar, berdasarkan sabda beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ
“Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaklah dia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696, 6700 dari Aisyah Radhiallaahu 'anha)
Faedah: Atas nama siapakah berqurban itu disunnahkan?
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahumullaah menjawab: “Disunnahkan dari orang yang masih hidup, bukan dari orang yang telah mati. Oleh sebab itulah, Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berqurban atas nama seorangpun yang telah mati. Tidak untuk istrinya, Khadijah Radhiallaahu 'anha, yang paling beliau cintai. Tidak juga untuk Hamzah Radhiallaahu 'anh, paman yang beliau cintai. Tidak pula untuk putra-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarganya. Dan barangsiapa yang memasukkan orang yang telah meninggal pada keumuman (keluarga), maka pendapatnya masih ditoleransi. Namun berqurban atas nama yang mati di sini statusnya hanya mengikut, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyariatkan berqurban atas nama orang yang mati secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat dari Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/423-424 cet. Darul Atsar, lihat pula hal. 389-390)
Berqurban atas nama sang mayit hanya diperbolehkan pada keadaan berikut:
Adapun bila ada yang berqurban atas nama sang mayit, maka amalan tersebut dinilai shadaqah atas nama sang mayit dan masuk pada keumuman hadits:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ...
“Bila seseorang telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: shadaqah jariyah ….” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anh)
Wallahul muwaffiq.
http://www.paseban.com/sanlat/discussions/567
Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhaanahu wata’ala.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)
Syariat dan Keutamaannya
Dalil yang menunjukkan disyariatkannya menyembelih hewan qurban adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama.
Adapun dari Al-Qur`an, di antaranya adalah firman Allah Subhaanahu wata’ala :
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Menurut sebagian ahli tafsir seperti Ikrimah, Mujahid, Qatadah, ‘Atha`, dan yang lainnya, النَّحْرُ dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan qurban.
Asy-Syinqithi Rahimahullaah dalam Adhwa`ul Bayan (3/470) menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa …. menyembelih hewan qurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.”
Juga keumuman firman Allah Subhaanahu wata’ala:
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahumullaah dalam kitab Fathur Rabbil Wadud (1/370) berhujjah dengan keumuman ayat di atas untuk menunjukkan syariat menyembelih hewan qurban. Beliau menjelaskan: “Kata الْبُدْنَ mencakup semua hewan sembelihan baik itu unta, sapi, atau kambing.”
Adapun dalil dari As-Sunnah, ditunjukkan oleh sabda beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan perbuatannya. Di antara sabda beliau adalah hadits Al-Bara` bin ‘Azib Radhiallaahu 'anh :
إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَـحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)
Di antara perbuatan beliau adalah hadits Anas bin Malik Radhiallaahu 'anh :
ضَحَّى رَسُولُ اللهِ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَـحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَـمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا
“Rasulullah berqurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca basmalah, bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5554 dan Muslim no. 1966, dan lafadz hadits ini milik beliau)
Adapun ijma’ ulama, dinukilkan kesepakatan ulama oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahumullaah dalam Asy-Syarhul Kabir (5/157) -Mughni-, Asy-Syaukani Rahimahullaah dalam Nailul Authar (5/196) dan Asy-Syinqithi rahimahumullaah dalam Adhwa`ul Bayan (3/470)1. Para ulama hanya berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya.
Adapun keutamaan berqurban, maka dapat diuraikan sebagai berkut:
- Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah Subhaanahu wata’ala, sebagaimana yang telah lewat penyebutannya dalam firman Allah Subhaanahu wata’ala surat Al-Hajj ayat 36.
- Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasallam, karena beliau Shalallaahu 'alaihi wasallam telah menganjurkan dan melaksanakannya. Maka setiap muslim yang berqurban seyogianya mencontoh beliau dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini.
- Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:
Juga firman-Nya:
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah Subhaanahu wata’ala dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Subhaanahu wata’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhaanahu wata’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhaanahu wata’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya….”
Beliau mengatakan lagi: “Oleh sebab itulah, Allah Subhaanahu wata’ala menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 162)
Walhasil, shalat dan menyembelih qurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wata’ala….”
Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat….”
Hukum Menyembelih Qurban
Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah bahwa menyembelih qurban hukumnya sunnah muakkadah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah Radhiallaahu 'anh, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Apabila masuk 10 hari Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih qurban maka janganlah dia mengambil (memotong) rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim 1977/39)
Sisi pendalilannya, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasallam menyerahkan ibadah qurban kepada kehendak yang menunaikannya. Sedangkan perkara wajib tidak akan dikaitkan dengan kehendak siapapun. Menyembelih hewan qurban berubah menjadi wajib karena nadzar, berdasarkan sabda beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ
“Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaklah dia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696, 6700 dari Aisyah Radhiallaahu 'anha)
Faedah: Atas nama siapakah berqurban itu disunnahkan?
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahumullaah menjawab: “Disunnahkan dari orang yang masih hidup, bukan dari orang yang telah mati. Oleh sebab itulah, Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berqurban atas nama seorangpun yang telah mati. Tidak untuk istrinya, Khadijah Radhiallaahu 'anha, yang paling beliau cintai. Tidak juga untuk Hamzah Radhiallaahu 'anh, paman yang beliau cintai. Tidak pula untuk putra-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarganya. Dan barangsiapa yang memasukkan orang yang telah meninggal pada keumuman (keluarga), maka pendapatnya masih ditoleransi. Namun berqurban atas nama yang mati di sini statusnya hanya mengikut, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyariatkan berqurban atas nama orang yang mati secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat dari Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/423-424 cet. Darul Atsar, lihat pula hal. 389-390)
Berqurban atas nama sang mayit hanya diperbolehkan pada keadaan berikut:
- Bila sang mayit pernah bernadzar sebelum wafatnya, maka nadzar tersebut dipenuhi karena termasuk nadzar ketaatan.
- Bila sang mayit berwasiat sebelum wafatnya, wasiat tersebut dapat terlaksana dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 harta sang mayit. (Lihat Syarh Bulughil Maram, 6/87-88 karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullaah)
- Syarik adalah Ibnu Abdillah An-Nakha’i Al-Qadhi, dia dhaif karena hafalannya jelek setelah menjabat sebagai qadhi (hakim).
- Abul Hasna` majhul (tidak dikenal).
- Hanasy adalah Ibnul Mu’tamir Ash-Shan’ani, pada haditsnya ada kelemahan walau dirinya dinilai shaduq lahu auham (jujur namun punya beberapa kekeliruan) oleh Al-Hafizh dalam Taqrib-nya.
Adapun bila ada yang berqurban atas nama sang mayit, maka amalan tersebut dinilai shadaqah atas nama sang mayit dan masuk pada keumuman hadits:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ...
“Bila seseorang telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: shadaqah jariyah ….” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anh)
Wallahul muwaffiq.
http://www.paseban.com/sanlat/discussions/567
Rabu, 01 Agustus 2012
On 8/01/2012 12:13:00 AM by KBM FT UNM in Aqidah No comments
Tidak lama lagi kita akan kedatangan tamu yang mulia lagi terhormat, bulan Ramadhan yang senantiasa dirindukan kedatangannya dan disayangkan kepergiannya.
Bulan yang datang dengan berjuta berkah dan magfirah yang akan membersihkan noda-noda dalam jiwa sang pendosa. Ramadhan adalah kekasih hati, ia bagaikan darah segar yang membangkitkan kembali semangat yang mulai mengendor,ia ibarat oase di tengah padang sahara pelepas dahaga bagi sang pengembara di bawah teriknya sang mentari. Hanya orang fasik dan zhalim yang mengabaikan kehadiran bulan Ramadhan,bahkan mereka mencela,membenci, dan menganggapnya sebagai penjara jiwa yang mengekang hawa nafsu yang senantiasa diperturutkannya.
Namun demikian kita tetap bersyukur, masih banyak kaum muslimin yang melaksanakan puasa, meski harus kita akui dengan jujur bahwa masih banyak pula diantara mereka yang menyambut dan mengisi hari-harinya di bulan Ramadhan dengan penyimpangan-penyimpangan dari apa yang disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعلى, diantaranya ada yang menyambutnya dengan pesta, pawai-pawai, bahkan di-antara mereka ada yang mempersiapkan acara begadang yang diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan menjurus kepada kemaksiatan. Sehingga benarlah apa yang disinyalir oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau :
Oleh karena itu sebagai seorang muslim hendaklah mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan di dalam menyambut bulan suci Ramadhan serta amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhan
1. Memperbanyak do’a kepada Allah
Adalah merupakan kebiasaan bagi para generasi yang shalih pendahulu kita dengan memperbanyak do’a sebelum masuknya bulan Ramad-han, sehingga diriwayatkan diantara me-reka ada yang memohon kepada Allah agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan sejak 6 bulan sebelumnya. Mereka juga memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan dan pertolongan di dalam melaksanakan ibadah-ibadah di dalamnya seperti puasa, qiyamul lail, sedekah dan sebagainya.
2. Bersuci dan membersihkan diri
Yaitu kebersihan yang bersifat maknawi seperti taubat nasuha dari segala dosa dan maksiat. Pantaskah kita me-nyambut tamu yang agung dan mulia dengan keadaan yang kotor?, Pantaskah kita menyambut bulan Ramadhan yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya dengan gelimangan dosa?, Bagaimana kita ber-puasa sedangkan shalat masih sering kita lalaikan ? yang mana meninggalkannya merupakan sebuah kekufuran. Bagaima-na kita menahan diri dari segala yang mubah (makan dan minum) kemudian berbuka dengan sesuatu yang haram ? yang merupakan hasil riba, suap dan harta haram lainnya. Bagaimana kita ber-harap puasa kita dapat diterima sedang-kan kita dalam keadaan seperti ini. Renungilah sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم
Oleh karena itu sebelum pintu taubat tertutup, sebelum matahai terbit dari sebelah barat, sebelum nyawa sampai di tenggorokan maka bersegeralah bertau-bat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Allah سبحانه وتعلى berfirman :
3. Mempersiapkan jiwa
Yaitu dengan memperbanyak amal-amal shalih pada bulan Sya’ban karena pada bulan ini bulan diangkatnya amalan-amalan pada Allah. Sebagaimana hadits Usamah bin Zaid yang diriwa-yatkan oleh Imam An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah yang dihasankan oleh Syaikh Al Albani bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa sepanjang bulan Sya’ban atau beliau memperbanyak puasa di dalamnya kecuali hanya beberapa hari saja beliau tidak melakukannya.
4. Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan mengenal petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم
Sebelum memasuki puasa seperti mempelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang mem-batalkannya, hukum berpuasa di hari syak (meragukan), perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti me-ngadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita ber-ilmu sebelum memahami dan mengamal-kannya. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى :
Didalam ayat ini Allah سبحانه وتعلى mendahulukan perintah berilmu sebelum berkata dan berbuat.
5. Mengatur sebaik-baiknya program di bulan Ramadhan.
Bila seorang tamu yang agung datang berkunjung ke rumah kita kemudian kita menyambutnya dengan baik tentu kita akan mendapatkan pujian serta balasan dari tamu tersebut, begitu pula dengan bulan Ramadhan yang datang dengan membawa berbagai macam keutamaan. Jika kita menyambutnya dengan persia-pan serta program-program untuk tamu agung ini tentu kita akan mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut.
Maka dari itu hendaklah kita mengisi bulan suci ini dengan memperbanyak iba-dah shalat sunnat, membaca Al Qur’an, memperbanyak tasbih, tahmid, takbir dan istighfar dan lebih peduli kepada nasib orang fakir dan miskin, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturrahmi, memuliakan tamu, men-jenguk orang sakit dan ibadah-ibadah lain yang semisal dengan itu guna meraih gelaran mulia dari Allah, yaitu “Taqwa” dimana ia merupakan simbol sejati bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengikhlaskan hati dan memurnikan iman yang terpatri lewat amalan ibadah yang relevan dengan hukum syar’i.
Keutamaan Puasa Ramadhan
Berpuasa di bulan Ramadhan selain ia suatu kewajiban individu bagi yang memenuhi syarat, namun ia juga me-nyimpan banyak keutamaan di balik semua itu, diantaranya :
1. Puasa adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Dan Allah-lah yang akan memberikan balasannya. Dalam hadits qudsi Allah سبحانه وتعلى berfirman :
Imam An Nawawi berkata:
“Dikatakan (bahwasanya Allah sendiri yang akan memberikan pahala orang berpuasa) karena puasa adalah bentuk ibadah yang tersembunyi yang jauh dari perbuatan riya’, hal ini berbeda dengan ibadah shalat, hajji, berjihad, shadaqah dan amalan-amalan ibadah yang zhahir (tampak) lainnya” (Lihat Syarh Shahih Muslim 8:271)
2. Bagi orang-orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembira-an, kegembiraan ketika ia berbuka dan kegembiraan ketika ia menemui Rabb-nya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
3. Pengampunan dosa
Seorang hamba yang berpuasa dan melakukan amal ibadah lainnya karena iman dan mengharap ridha Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diam-puni oleh Allah سبحانه وتعلى . Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersab-da :
4. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma misk (minyak wangi). Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
5. Terdapat waktu yang mustajab.
Bagi yang berpuasa ada waktu, yang mana apabila ia berdo’a pada waktu tersebut, maka do’a itu tidak tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
Ya Allah kami rindu dengan bulan Ramadhan, maka pertemukanlah kami dengannya dan berilah kami kekuatan untuk beribadah didalamnya sebagai-mana yang Engkau cintai dan ridhai.(Al Fikrah)
-Harman Tajang-
sumber : wahdah.or.id
Bulan yang datang dengan berjuta berkah dan magfirah yang akan membersihkan noda-noda dalam jiwa sang pendosa. Ramadhan adalah kekasih hati, ia bagaikan darah segar yang membangkitkan kembali semangat yang mulai mengendor,ia ibarat oase di tengah padang sahara pelepas dahaga bagi sang pengembara di bawah teriknya sang mentari. Hanya orang fasik dan zhalim yang mengabaikan kehadiran bulan Ramadhan,bahkan mereka mencela,membenci, dan menganggapnya sebagai penjara jiwa yang mengekang hawa nafsu yang senantiasa diperturutkannya.
Namun demikian kita tetap bersyukur, masih banyak kaum muslimin yang melaksanakan puasa, meski harus kita akui dengan jujur bahwa masih banyak pula diantara mereka yang menyambut dan mengisi hari-harinya di bulan Ramadhan dengan penyimpangan-penyimpangan dari apa yang disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعلى, diantaranya ada yang menyambutnya dengan pesta, pawai-pawai, bahkan di-antara mereka ada yang mempersiapkan acara begadang yang diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan menjurus kepada kemaksiatan. Sehingga benarlah apa yang disinyalir oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau :
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ رواه أحمد و ابن ماجه
“Betapa banyak orang yang berpuasa bagian yang ia dapatkan (hanyalah) lapar dan dahaga” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)Oleh karena itu sebagai seorang muslim hendaklah mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan di dalam menyambut bulan suci Ramadhan serta amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhan
1. Memperbanyak do’a kepada Allah
Adalah merupakan kebiasaan bagi para generasi yang shalih pendahulu kita dengan memperbanyak do’a sebelum masuknya bulan Ramad-han, sehingga diriwayatkan diantara me-reka ada yang memohon kepada Allah agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan sejak 6 bulan sebelumnya. Mereka juga memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan dan pertolongan di dalam melaksanakan ibadah-ibadah di dalamnya seperti puasa, qiyamul lail, sedekah dan sebagainya.
2. Bersuci dan membersihkan diri
Yaitu kebersihan yang bersifat maknawi seperti taubat nasuha dari segala dosa dan maksiat. Pantaskah kita me-nyambut tamu yang agung dan mulia dengan keadaan yang kotor?, Pantaskah kita menyambut bulan Ramadhan yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya dengan gelimangan dosa?, Bagaimana kita ber-puasa sedangkan shalat masih sering kita lalaikan ? yang mana meninggalkannya merupakan sebuah kekufuran. Bagaima-na kita menahan diri dari segala yang mubah (makan dan minum) kemudian berbuka dengan sesuatu yang haram ? yang merupakan hasil riba, suap dan harta haram lainnya. Bagaimana kita ber-harap puasa kita dapat diterima sedang-kan kita dalam keadaan seperti ini. Renungilah sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ الْعَمَلَ بِهِ فَلَْيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ رواه البخاري
“Barangsiapa yang tidak meninggal-kan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada bagi Allah kepentingan terhadap puasa (yang sekedar meninggalkan makan dan minum)” (HR. Bukhari)Oleh karena itu sebelum pintu taubat tertutup, sebelum matahai terbit dari sebelah barat, sebelum nyawa sampai di tenggorokan maka bersegeralah bertau-bat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Allah سبحانه وتعلى berfirman :
يَآيُهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا تُوْبُوْا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا …. التحريم :8
“Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya…” (QS. At Tahrim:8)3. Mempersiapkan jiwa
Yaitu dengan memperbanyak amal-amal shalih pada bulan Sya’ban karena pada bulan ini bulan diangkatnya amalan-amalan pada Allah. Sebagaimana hadits Usamah bin Zaid yang diriwa-yatkan oleh Imam An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah yang dihasankan oleh Syaikh Al Albani bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa sepanjang bulan Sya’ban atau beliau memperbanyak puasa di dalamnya kecuali hanya beberapa hari saja beliau tidak melakukannya.
4. Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan mengenal petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم
Sebelum memasuki puasa seperti mempelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang mem-batalkannya, hukum berpuasa di hari syak (meragukan), perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti me-ngadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita ber-ilmu sebelum memahami dan mengamal-kannya. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى :
فَاعْلَمْ أَنــَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ محمد : 19
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguh-nya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan termpat tinggalmu” (QS. Muhammad :19)Didalam ayat ini Allah سبحانه وتعلى mendahulukan perintah berilmu sebelum berkata dan berbuat.
5. Mengatur sebaik-baiknya program di bulan Ramadhan.
Bila seorang tamu yang agung datang berkunjung ke rumah kita kemudian kita menyambutnya dengan baik tentu kita akan mendapatkan pujian serta balasan dari tamu tersebut, begitu pula dengan bulan Ramadhan yang datang dengan membawa berbagai macam keutamaan. Jika kita menyambutnya dengan persia-pan serta program-program untuk tamu agung ini tentu kita akan mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut.
Maka dari itu hendaklah kita mengisi bulan suci ini dengan memperbanyak iba-dah shalat sunnat, membaca Al Qur’an, memperbanyak tasbih, tahmid, takbir dan istighfar dan lebih peduli kepada nasib orang fakir dan miskin, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturrahmi, memuliakan tamu, men-jenguk orang sakit dan ibadah-ibadah lain yang semisal dengan itu guna meraih gelaran mulia dari Allah, yaitu “Taqwa” dimana ia merupakan simbol sejati bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengikhlaskan hati dan memurnikan iman yang terpatri lewat amalan ibadah yang relevan dengan hukum syar’i.
Keutamaan Puasa Ramadhan
Berpuasa di bulan Ramadhan selain ia suatu kewajiban individu bagi yang memenuhi syarat, namun ia juga me-nyimpan banyak keutamaan di balik semua itu, diantaranya :
1. Puasa adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Dan Allah-lah yang akan memberikan balasannya. Dalam hadits qudsi Allah سبحانه وتعلى berfirman :
نْ حَسَنَةٍ عَمِلَهَا ابْنُ آدَمَ إِلاَّ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ U إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ رواه النسائي
“Tidaklah seorang anak Adam melakukan suatu amalan kebaikan, kecuali akan dituliskan baginya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat (pahala) kebaikan. Allah سبحانه وتعلى berfirman : “Kecuali puasa maka sungguh puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang me-nentukan ganjaran (pahala)nya” (HR. An Nasaa’i)Imam An Nawawi berkata:
“Dikatakan (bahwasanya Allah sendiri yang akan memberikan pahala orang berpuasa) karena puasa adalah bentuk ibadah yang tersembunyi yang jauh dari perbuatan riya’, hal ini berbeda dengan ibadah shalat, hajji, berjihad, shadaqah dan amalan-amalan ibadah yang zhahir (tampak) lainnya” (Lihat Syarh Shahih Muslim 8:271)
2. Bagi orang-orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembira-an, kegembiraan ketika ia berbuka dan kegembiraan ketika ia menemui Rabb-nya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
لِلصَّــائِمِ فَرْحَــتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبـــَّــهُ رواه البخاري و مسلم
“Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berbuka serta kegembiraan ketika ia menemui Rabbnya” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Pengampunan dosa
Seorang hamba yang berpuasa dan melakukan amal ibadah lainnya karena iman dan mengharap ridha Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diam-puni oleh Allah سبحانه وتعلى . Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersab-da :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابــًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رواه البخاري و مسلم
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosa nya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim)4. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma misk (minyak wangi). Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْــيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيـْـحِ الْمِسْكِ رواه البخاري و مسلم
“Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma misk (minyak wangi)” (HR. Bukhari dan Muslim)5. Terdapat waktu yang mustajab.
Bagi yang berpuasa ada waktu, yang mana apabila ia berdo’a pada waktu tersebut, maka do’a itu tidak tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ رواه ابن ماجه
“Sesungguhnya orang-orang yang berpuasa pada saat berbuka mempunyai waktu dimana do’anya tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah)Ya Allah kami rindu dengan bulan Ramadhan, maka pertemukanlah kami dengannya dan berilah kami kekuatan untuk beribadah didalamnya sebagai-mana yang Engkau cintai dan ridhai.(Al Fikrah)
-Harman Tajang-
sumber : wahdah.or.id
Kamis, 12 Juli 2012
On 7/12/2012 02:18:00 AM by KBM FT UNM in Aqidah No comments
La Haula wa La Quwwata Illa Billah. Ucapan tersebut sering sekali diucapkan oleh manusia, terutama orang muslim. Entah paham atau tidak yang jelas sering sekali kita jumpai di tengah masyarakat ucapan tersebut keluar dengan begitu saja. Seolah ucapan ini sudah menjadi hal biasa diucapkan saat terkejut, kagum terhadap sesuatu atau bahkan saat menunjukkan kemarahan pada orang lain.
Andai saja semua kaum muslimin tahu makna dan keutamaan ucapan La Haula wa La Quwwata Illa Billah ini, tentu mereka tak akan bermain-main begitu saja. Sebab ucapan ini adalah ucapan yang istimewa dan memiliki keutamaan luar biasa.
Suatu ketika Al Asyja’i melaporkan kepada Rasulullah Shallalohu 'alaihi wasallam bahwa anaknya yang bernama Auf telah ditawan oleh musuh. Maka Rasulullah Shallalohu 'alaihi wasallam berpesan kepadanya agar Al Asyja’i mengutus seseorang untuk menemui anaknya dan menyampaikan agar Auf memperbanyak membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah”.
Maka setelah hal tersebut disampaikan dan Auf memperbanyak membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah” terjadilah bermacam keajaiban. Betapa tidak, tali kulit yang mengikat tangan Auf tiba-tiba terlepas maka Auf pun kabur dengan menunggang onta milik musuh.
Bahkan saat Auf di kejar dan bertemu dengan musuhnya kembali dia dapat terlepas setelah membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah.”
Orang tua Auf menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah Shallalohu 'alaihi wasallam. Maka Rasulullah SAW mengijinkan Auf untuk mengambil onta yang telah dicurinya dari musuhnya tersebut. Setelah itu turunlah ayat Al-Qur’an:
“Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar,” (QS. Ath Thalaq:2)
Sedemikian istimewanya ucapan “La Haula wa La Quwwata Illa Billah” sampai-sampai Rasulullah Shallalohu 'alaihi wasallam bersabda:
Perbanyaklah membaca ‘La Haula wa La Quwwata Illa Billah’, karena sesungguhnya ia merupakan perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan Surga. (HR.Ahmad)
Pengalaman luar biasa juga pernah diceritakan oleh Abu Khair, Ishaq Al Gharawi. Dia menceritakan bahwa mereka pernah diserang sebuah pasukan dengan delapan puluh ekor gajah. Akibatnya pasukan mereka, termasuk pasukan berkuda menjadi berantakan.
Peristiwa ini, ujar Abu Khair membuat Muhammad bin Qasum panik. Melihat kondisi ini dia kemudian membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah” berkali-kali.
Ajaib, karena ucapan tersebut Allah menahan gajah-gajah tersebut dengan cara ditimpakan kepadanya rasa yang sangat panas, sehingga gajah-gajah itu mencari sumber air. Para pawang mereka sekalipun tak mampu mengendalikan gajah-gajah yang sudah kepanasan itu.
Akhirnya, para prajurit Muslim bisa melanjutkan perjalana dengan menaiki gajah yang sudah ditaklukkan tersebut. Kemenangan ini tentu berkat izin dari Allah Subhana wata'ala. Kisah kedua ini diriwayatkaan oleh Ibnu Abu Dunya dan Tanukhi dalam kitab Al- Farj ba’dasy Syiddah.
Ucapan ini juga dapat menyembuhkan 99 penyakit, dan penyakit terendah yakni kebimbangan.
Demikianlah diantara kisah tentang keistimewaan ucapan “La Haula wa La Quwwata Illa Billah.” Oleh karenanya jadikanlah ucapan ini sebagai amalan kita, terutama saat menghadapi kesulitan. Jangan sampai ucapan mulia ini dijadikan bahkan olok-olokan. (abahguru.com)
Rabu, 27 Juni 2012
On 6/27/2012 09:34:00 PM by KBM FT UNM in Aqidah No comments
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan agama dan taliNya, dan juga memerintahkan untuk bersatu di atasnya. Sebagaimana firmanNya:
تَفَرَّقُوا وَلَا جَمِيعًا اللَّهِ بِحَبْلِ وَاعْتَصِمُوا
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…. [Ali ‘Imran / 3 : 103]
Jika ayat ini diperhatikan, Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan agama dan taliNya, juga melarang kita berpecah-belah. Ada sebuah isyarat yang menunjukkan, bahwasanya berpegang teguh dengan agama dan tali Allah tidak akan mengakibatkan perpecahan. Dalam hal ini sekaligus mengandung makna bahwa, perpecahan bukanlah bagian dari berpegang teguh dengan agama dan taliNya. Karena, jika berpegang teguh dengan agama dan tali Allah mengakibatkan perpecahan, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berpegang teguh, dan sekaligus melarang kita dari berpecah-belah. Karena hal ini kontradiktif.
Jadi, berpegang teguh dengan agama Allah tidak akan mengakibatkan perpecahan dan berpisahnya seseorang dari jama'ah kaum Muslimin. Bahkan, termasuk dalam makna berpegang teguh dengan agama Allah, yaitu berkumpul (bersatu) di atas agama Allah Azza wa Jalla.
Namun, sebagian besar kaum Muslimin, masih ada yang salah dalam memahami makna al i’tisham (berpegang teguh dengan agama Allah) ini. Sehingga, sebagian mengira bahwa ia telah berpegang teguh dengan agama Allah, tatkala ia bersikeras di atas sikap dan pendiriannya. Kemudian di atas pendiriannya ini, ia membangun sebuah sikap; ia mengambil sikap loyalitas dan permusuhan (dengan orang-orang tertentu), atau memisahkan dirinya dari jama'ah kaum Muslimin. Atau bahkan ia memecah-belah jama'ah kaum Muslimin, dengan anggapan bahwa ia telah berpegang teguh dengan agama Allah. Ia pun menyangka dirinya sebagai orang yang benar-benar memiliki sebuah semangat dalam berpegang teguh dengan agama Allah.
Dari sini, maka kita harus benar-benar memahami makna al i’tisham yang sesungguhnya, dan apa hakikat makna al ijtima’ (bersatu, berkumpul di atas agama Allah) ini. Jadi, apa sesungguhnya makna al i’tisham?
Makna al i’tisham (berpegang teguh) dengan tali dan agama Allah ialah, seorang muslim melaksanakan seluruh perintah yang diwajibkan Allah kepadanya, yang perintah wajib tersebut berkaitan dengan dirinya, (dan) sekaligus menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah kepadanya. Inilah salah satu makna al i’tisham dengan tali dan agama Allah, yang berkaitan dengan pribadi seorang muslim.
Jadi, berpegang teguh dengan agama Allah tidak akan mengakibatkan perpecahan dan berpisahnya seseorang dari jama'ah kaum Muslimin. Bahkan, termasuk dalam makna berpegang teguh dengan agama Allah, yaitu berkumpul (bersatu) di atas agama Allah Azza wa Jalla.
Namun, sebagian besar kaum Muslimin, masih ada yang salah dalam memahami makna al i’tisham (berpegang teguh dengan agama Allah) ini. Sehingga, sebagian mengira bahwa ia telah berpegang teguh dengan agama Allah, tatkala ia bersikeras di atas sikap dan pendiriannya. Kemudian di atas pendiriannya ini, ia membangun sebuah sikap; ia mengambil sikap loyalitas dan permusuhan (dengan orang-orang tertentu), atau memisahkan dirinya dari jama'ah kaum Muslimin. Atau bahkan ia memecah-belah jama'ah kaum Muslimin, dengan anggapan bahwa ia telah berpegang teguh dengan agama Allah. Ia pun menyangka dirinya sebagai orang yang benar-benar memiliki sebuah semangat dalam berpegang teguh dengan agama Allah.
Dari sini, maka kita harus benar-benar memahami makna al i’tisham yang sesungguhnya, dan apa hakikat makna al ijtima’ (bersatu, berkumpul di atas agama Allah) ini. Jadi, apa sesungguhnya makna al i’tisham?
Makna al i’tisham (berpegang teguh) dengan tali dan agama Allah ialah, seorang muslim melaksanakan seluruh perintah yang diwajibkan Allah kepadanya, yang perintah wajib tersebut berkaitan dengan dirinya, (dan) sekaligus menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah kepadanya. Inilah salah satu makna al i’tisham dengan tali dan agama Allah, yang berkaitan dengan pribadi seorang muslim.
Di antara makna al i’tisham dengan agama Allah adalah, seorang muslim berdakwah dan mengajak orang lain kepada kebaikan yang ia berada di atasnya. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [‘Ashr / 103 : 1-3].
(Surat ini mengandung perintah untuk) beriman, beramal shalih, lalu berdakwah kepada kebaikan.
Tatkala seorang da’i berdakwah, mengajak orang lain kepada kebaikan dan kepada hal yang ia berada di atasnya, berarti -sudah merupakan sesuatu yang diketahui dari sunnatullah al kauniyah (ketentuan Allah yang pasti terjadi), dan juga sesuai dengan nushusy syar’iyah (dalil-dalil syar’i)- sesungguhnya tidak setiap orang yang terjun berdakwah dan mengajak orang lain kepada Allah, pasti akan diterima dakwahnya. Bahkan, para rasul pun telah didustakan dan dimusuhi oleh orang-orang yang memusuhi mereka.
Syaikhul Islam berkata,”Tidak ada seorang rasul pun, melainkan pasti ada di antara kaumnya yang memusuhinya”. Dan telah datang seorang rasul (pada hari kiamat), sedangkan ia tidak memiliki satu pengikut pun. Inilah ketentuan Allah Azza wa Jalla yang telah Ia tetapkan keadaannya, dan telah diterangkan oleh nushush syar’iyah. Sehingga, tidak setiap orang yang berdakwah ilallah (mengajak orang lain kepada Allah) pasti akan diterima dakwahnya. Maka dari sinilah, seorang muslim wajib ber-i’tisham dengan tali dan agama Allah, yakni; di saat ia tidak mendapatkan jawaban dari orang-orang yang ia dakwahi.
Permasalahan ini merupakan bagian berbahaya, yang kebanyakan orang tergelincir padanya. Sebagian orang berdakwah ilallah. Pada mulanya ia lurus dalam berdakwah, mengajak orang lain kepada kebaikan. Namun, tatkala tidak mendapatkan respon dari orang-orang yang ia dakwahi, mulailah tampak pada dirinya penyimpangan. Bahkan, pada akhirnya mengantarkannya pada perbuatan yang benar-benar menyimpang. Dia menempuh sebuah cara yang sama sekali tidak pernah diperintahkan (dalam berdakwah). Hingga akhirnya, ia pun tidak terlepas dari salah satu di antara dua keadaan, yaitu berperilaku ekstrim dan keras dalam dakwahnya, dengan anggapan bahwa ia dituntut dan harus menunjukkan orang-orang kepada jalan yang benar. Atau (bahkan yang terjadi adalah) sebaliknya, ia justru melemah dan malas berdakwah.
(Surat ini mengandung perintah untuk) beriman, beramal shalih, lalu berdakwah kepada kebaikan.
Tatkala seorang da’i berdakwah, mengajak orang lain kepada kebaikan dan kepada hal yang ia berada di atasnya, berarti -sudah merupakan sesuatu yang diketahui dari sunnatullah al kauniyah (ketentuan Allah yang pasti terjadi), dan juga sesuai dengan nushusy syar’iyah (dalil-dalil syar’i)- sesungguhnya tidak setiap orang yang terjun berdakwah dan mengajak orang lain kepada Allah, pasti akan diterima dakwahnya. Bahkan, para rasul pun telah didustakan dan dimusuhi oleh orang-orang yang memusuhi mereka.
Syaikhul Islam berkata,”Tidak ada seorang rasul pun, melainkan pasti ada di antara kaumnya yang memusuhinya”. Dan telah datang seorang rasul (pada hari kiamat), sedangkan ia tidak memiliki satu pengikut pun. Inilah ketentuan Allah Azza wa Jalla yang telah Ia tetapkan keadaannya, dan telah diterangkan oleh nushush syar’iyah. Sehingga, tidak setiap orang yang berdakwah ilallah (mengajak orang lain kepada Allah) pasti akan diterima dakwahnya. Maka dari sinilah, seorang muslim wajib ber-i’tisham dengan tali dan agama Allah, yakni; di saat ia tidak mendapatkan jawaban dari orang-orang yang ia dakwahi.
Permasalahan ini merupakan bagian berbahaya, yang kebanyakan orang tergelincir padanya. Sebagian orang berdakwah ilallah. Pada mulanya ia lurus dalam berdakwah, mengajak orang lain kepada kebaikan. Namun, tatkala tidak mendapatkan respon dari orang-orang yang ia dakwahi, mulailah tampak pada dirinya penyimpangan. Bahkan, pada akhirnya mengantarkannya pada perbuatan yang benar-benar menyimpang. Dia menempuh sebuah cara yang sama sekali tidak pernah diperintahkan (dalam berdakwah). Hingga akhirnya, ia pun tidak terlepas dari salah satu di antara dua keadaan, yaitu berperilaku ekstrim dan keras dalam dakwahnya, dengan anggapan bahwa ia dituntut dan harus menunjukkan orang-orang kepada jalan yang benar. Atau (bahkan yang terjadi adalah) sebaliknya, ia justru melemah dan malas berdakwah.
Kedua hal ini dilarang oleh Allah Azza wa Jalla. Allah telah melarang bermalas-malasan atau lemah dalam berdakwah. Sebagaimana firmanNya kepada NabiNya:
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar…. [al Ahqaaf / 46 :35]
Maksudnya ialah, bersabarlah dalam berdakwah, dan dalam mendakwahi orang-orang.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah memberikan peringatan tentang hal ini, agar umatnya tidak berlebih-lebihan (dalam berdakwah). Bahkan sebelumnya, telah ada peringatan di dalam al Qur`an agar umatnya tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam mendakwahi orang lain.
Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam merasa sempit disebabkan pamannya -Abu Thalib- yang tidak juga mau menerima petunjuk darinya, Allah Azza wa Jalla menurunkan sebuah ayat padanya:
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah memberikan peringatan tentang hal ini, agar umatnya tidak berlebih-lebihan (dalam berdakwah). Bahkan sebelumnya, telah ada peringatan di dalam al Qur`an agar umatnya tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam mendakwahi orang lain.
Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam merasa sempit disebabkan pamannya -Abu Thalib- yang tidak juga mau menerima petunjuk darinya, Allah Azza wa Jalla menurunkan sebuah ayat padanya:
esungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya…. [al Qashash / 28 : 56].
Jadi, Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan, hidayah ini, tidak ada seorang pun yang memilikinya . Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri -yang dakwahnya mendapatkan pertolongan langsung dari Allah- tidak memiliki jenis hidayah ini untuk orang yang terdekat dengannya (yakni pamannya).
Saudara-saudara kita yang seaqidah dan semanhaj, mereka adalah Ahlus Sunnah. Dan mereka, mungkin saja berbuat salah dalam permasalahan tertentu. Namun hal ini tidak menghalangi kita untuk mengarahkan orang-orang awam agar mengambil faidah dari mereka.
Seorang ulama pun terkadang pernah salah dalam pendapatnya. Namun, kesalahannya berbeda dengan kesalahan orang lain. Kesalahan seorang ‘alim adalah disebabkan ijtihadnya. Sehingga hal ini tidak melarang orang lain untuk tetap mengambil ilmu darinya. Ia tetap didukung dakwahnya. Ia tetap berhak agar orang-orang awam diarahkan kepadanya untuk mengambil manfaat darinya.
Seandainya para penuntut ilmu menilai permasalahan ini dengan fiqh (dengan ilmu dan pemahaman yang benar), pastilah mereka akan menyadari bahwa, manhaj dakwah seperti ini mengandung kemaslahatan yang sangat besar. Karena, jika kalian (para da’i dan penuntut ilmu) berpecah-belah, kaum Muslimin pun akan berpecah-belah. Sehingga, perpecahan kalian merupakan perpecahan umat. Bukan hanya sekedar perpecahan sebagian kelompok orang.
Setiap da’i, di belakangnya terdapat penuntut ilmu dan para pengikutnya. Sehingga, perpecahan para da’i dan penuntut ilmu adalah perpecahan umat. Namun jika kalian bersatu dan berkumpul, umat pun akan bersatu dan berkumpul.
Para da’i dan penuntut ilmu hendaknya senantiasa hanya mengharapkan keridhaan dan pahala dari Allah dalam usahanya untuk memperbaiki keadaan saudara-saudara mereka, dan saling damai antara sesama mereka. Hal ini -demi Allah- termasuk perbuatan yang pahalanya sangat besar.
Seandainya para penuntut ilmu menilai permasalahan ini dengan fiqh (dengan ilmu dan pemahaman yang benar), pastilah mereka akan menyadari bahwa, manhaj dakwah seperti ini mengandung kemaslahatan yang sangat besar. Karena, jika kalian (para da’i dan penuntut ilmu) berpecah-belah, kaum Muslimin pun akan berpecah-belah. Sehingga, perpecahan kalian merupakan perpecahan umat. Bukan hanya sekedar perpecahan sebagian kelompok orang.
Setiap da’i, di belakangnya terdapat penuntut ilmu dan para pengikutnya. Sehingga, perpecahan para da’i dan penuntut ilmu adalah perpecahan umat. Namun jika kalian bersatu dan berkumpul, umat pun akan bersatu dan berkumpul.
Para da’i dan penuntut ilmu hendaknya senantiasa hanya mengharapkan keridhaan dan pahala dari Allah dalam usahanya untuk memperbaiki keadaan saudara-saudara mereka, dan saling damai antara sesama mereka. Hal ini -demi Allah- termasuk perbuatan yang pahalanya sangat besar.
Alangkah indahnya, jika para da’i dan penuntut ilmu berada di atas pemahaman dan tujuan yang lurus dan agung seperti ini dalam dakwah mereka, dan dalam usaha mereka untuk mendamaikan dan mempersatukan kaum Muslimin. Semuanya ini, sama sekali bukan berarti seorang muslim mesti bertanazul (mengalah dan menyerah) dalam mempertahankan agamanya. Karena, permasalahan sebagian orang sekarang, adalah prasangka yang salah dalam memahami makna al ijtima’. Ia menyangka, makna al ijtima’ adalah seorang muslim selalu turun, merendah dan mengalah dalam mempertahankan syariat agamanya. Tidak! Bukan seperti ini!
Betapapun dekatnya hubungan kekerabatan seseorang dengan orang yang ia dakwahi, dan betapapun tingginya ilmu seseorang, jika ia melakukan kesalahan, maka seorang muslim tidak boleh bermudahanah (mencari muka dengan mengorbankan agama demi kepentingan dunia) seraya berkata: “Kita adalah bersaudara, tidak baik bagi kita untuk membicarakan masalah ini…”. Tidak! Ini tidak boleh dilakukan! Persaudaraan, sama sekali tidak menghalangi kita untuk saling menasihati dan saling menegur jika terdapat kesalahan (di antara kita). Namun, dengan cara yang baik dan lemah-lembut.
Maka, kita harus memahami batasan-batasan permasalahan berkaitan dengan lafazh-lafazh syar’i ini. Kita harus mengetahui makna al i’tisham bi kitabillah. Kita juga harus mengetahui makna al ijtima’.
Betapapun dekatnya hubungan kekerabatan seseorang dengan orang yang ia dakwahi, dan betapapun tingginya ilmu seseorang, jika ia melakukan kesalahan, maka seorang muslim tidak boleh bermudahanah (mencari muka dengan mengorbankan agama demi kepentingan dunia) seraya berkata: “Kita adalah bersaudara, tidak baik bagi kita untuk membicarakan masalah ini…”. Tidak! Ini tidak boleh dilakukan! Persaudaraan, sama sekali tidak menghalangi kita untuk saling menasihati dan saling menegur jika terdapat kesalahan (di antara kita). Namun, dengan cara yang baik dan lemah-lembut.
Maka, kita harus memahami batasan-batasan permasalahan berkaitan dengan lafazh-lafazh syar’i ini. Kita harus mengetahui makna al i’tisham bi kitabillah. Kita juga harus mengetahui makna al ijtima’.
Al ijtima’, apa makna al ijtima’?
Bukan makna al ijtima’ seperti yang dikira oleh ahlul bida’, yaitu bersatu dan berkumpul walaupun di atas kebatilan, dan tidak boleh saling mengingkari sebagian kepada sebagian yang lain.
Bukan pula makna al i’tisham, (jika) setiap orang berpegang teguh dan bersikeras dengan sesuatu yang ada di dalam kepalanya, lalu ia berkata: “Aku berpegang teguh dengan agama Allah, aku tidak peduli dengan siapapun yang menyelisihi aku…”. Bukan! Bukan demikian!
Bahkan dirimu memiliki saudara-saudara, yang menyertaimu dan bersama-sama denganmu dalam permasalahan, yang dirimu juga sama dengan mereka dalam hal kebaikan, ilmu dan keutamaan lainnya. Oleh kerena itu, introspeksi dirimu, dan hargailah mereka! Kemungkinan Anda yang salah. Dan ada kemungkinan juga orang lain yang salah. Tetapi, Anda harus tetap sabar dan bertahan (dalam berdakwah dan bermu'amalah).
Kita memohon kepada Allah taufikNya untuk kita semua. wallahu a’lam…
Bukan makna al ijtima’ seperti yang dikira oleh ahlul bida’, yaitu bersatu dan berkumpul walaupun di atas kebatilan, dan tidak boleh saling mengingkari sebagian kepada sebagian yang lain.
Bukan pula makna al i’tisham, (jika) setiap orang berpegang teguh dan bersikeras dengan sesuatu yang ada di dalam kepalanya, lalu ia berkata: “Aku berpegang teguh dengan agama Allah, aku tidak peduli dengan siapapun yang menyelisihi aku…”. Bukan! Bukan demikian!
Bahkan dirimu memiliki saudara-saudara, yang menyertaimu dan bersama-sama denganmu dalam permasalahan, yang dirimu juga sama dengan mereka dalam hal kebaikan, ilmu dan keutamaan lainnya. Oleh kerena itu, introspeksi dirimu, dan hargailah mereka! Kemungkinan Anda yang salah. Dan ada kemungkinan juga orang lain yang salah. Tetapi, Anda harus tetap sabar dan bertahan (dalam berdakwah dan bermu'amalah).
Kita memohon kepada Allah taufikNya untuk kita semua. wallahu a’lam…
Kamis, 14 Juni 2012
On 6/14/2012 09:08:00 PM by KBM FT UNM in Aqidah No comments
Assalamu’alaikum…Segala puji kita panjatkan hanya kepada Allah Subhana wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap kita curahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad shalallohu alaihi wa sallam, tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan –Nya. Kita Manusia tinggal di dunia hanya untuk waktu yang singkat. Di sini, di dunia ini, kita akan diuji, dilatih, kemudian meninggalkan dunia menuju kehidupan akhirat di mana kita akan tinggal selamanya. Allah Subhana wa ta’ala berfirman :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?' Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 14-15)
Sebenarnya, kehidupan di dunia tidak sempurna dan tidak berharga dibandingkan kehidupan abadi di akhirat. Untuk menggambarkan hal ini, dalam bahasa Arab, dunia mempunyai konotasi “tempat yang sempit, gaduh dan kotor. Terkadang kita menganggap usia 60-70 tahun di dunia sangat panjang dan memuaskan. Akan tetapi, tiba-tiba kematian datang dan semua terkubur di liang lahad. Sebenarnya, ketika kematian mendekat, baru disadari betapa singkatnya waktu di dunia. Bagi mereka yang lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri, Astagfirullahi, Allah akan memberikan hukuman yang berat. Al-Qur`an menggambarkan keadaan orang yang demikian;
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (an-Naazi'aat: 37-39)
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (an-Naazi'aat: 37-39)
Mari kita sejenak mengingat kematian. Karena mengingat kemaitan adalah salah satu wasiat bagi kita umat Muhammad. Dengan mengingat hal itu yakni kematian, semoga kita tersadar bahwa kehidupan ini tidak hanya di dunia belaka namun ada kehidupan akhirat yang abadi. Mari dan mari terus mengingat kematian. Karena orang yang benci mati (bertemu dengan Allah), Allah-pun juga benci bertemu dengannya. Na’udzubillah.
Sebelum kita mengerti apa arti dari semua ini, sepantasnya kita pahami Makna indah hidup ini. Waktu yang kita jalani, dari semua perbuatan kita Untuk kita tanggung sendiri. Ini dunia,hanya sementara koleksi amalan untuk bekal akhir. Jangan sampai kita lupa tujuan kita diciptakan.
“Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku” (Adz Dzariyat : 56)
Maka apa yang perlu untuk kita lakukan di dunia ini???tentulah sesuai dengan ayat yang telah disebutkan di atas, yakni beribadah kepada Allah. Dengan ibadah itu menjadi bekal kita untuk meraih kenikmatan yang ada di hari kemudian di akhirat nanti. Dalam sebuah hadist, dari Muadz bin Jabal radhiallohu anhuma berkata, “Aku berkata , wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang dapat mengantarkanku ke dalam surge dan menjauhkanku dari neraka.” Beliau bersabda, “Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar, namun itu perkara yang mudah bagi orang-orang yang Allah beri petunjuk. Engkau harus menyembah Allah dan jangan menyekutukanNya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR Tirmidzi)
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orag yang diteguhkan iman, dan dimudahkan dalam menghadapi kematian, dihindarkan dar siksa kubur, serta memasukkan kita dalam surga-Nya..
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Kalender
Cari Penginapan?
Pondok | Tempat Kost | Aman insyAllah terjamin
Popular Posts
-
Belakangan ini demonstrasi sudah bisa dikatakan sangat lumrah di negara kita. Banyak orang mengatakan bahwa “demonstrasi” a...
-
Sungguh Allah telah membukakan hati-hati hambaNya dengan hidayah keimanan. Dengan keimanan itulah Allah melunakkan hati-hati hambaNya unt...
-
Assalamu’alaikum …Segala puji kita panjatkan hanya kepada Allah Subhana wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap kita curahkan kepada bag...













