Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2014

On 3/24/2014 07:14:00 PM by KBM FT UNM in , ,    1 comment
        Setelah melaksanakan beberapa kegiatan dalam semarak Rangkaian MUKTAMAR XXII LDF Raudhatul Mujaddid FT-UNM, diantaranya Latihan Dasar Kepribadian dan Kajian Buku Tazkiyatun Nufs dan beberapa kegiatan oleh korps keputrian kini di akhir kepengurusan kami melangsungkan MUKTAMAR ke 21 yang bertempat di markas Dakwah Masjid Mushab bin Umair.
     Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh pengurus ini berlangsung selama dua(2) hari dengan menghadirkan beberapa undangan dan Alumni KBM FT UNM(Nama Lama Raudhatul Mujaddid) sebagai pendamping Mukatamar. Meski pelaksanaan yang sangat sederhana namun antusias peserta yang dihadiri oleh banyak calon pengurus Mahasiswa Baru Fakultas Tenkin UNM ini menumbuhkan semangat dakwah di fakultas teknik bagaikan bunga yang akan mekar menebarkan serbuk-serbuk islami ke seluruh wilayah fakultas teknik. beberapa kesalahan menjadi pelajaran bagi kami semua peserta terkhusus pengurus agar kepengurusan kedepan bisa menjadi lebih baik. kegiatan sejak 13 Jumadil Ula 1435 H ini berkahir 14 Jumadil Ula 1435 H dengan terpilihnya al akh Kaharuddin angkatan 2011 sebagai ketua baru sekaligus ketua pertama lembaga dakwah faultas yang bernama Raudhatul Mujaddid FT UNM. terakhir kamu ucapakan Barakallahu fikum kepada Ketua Umu Yang Baru LDF Raudhatul Mujaddid FT-UNM Kaharuddin Mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin FT-UNM. Semoga Allah Meneguhkan kedudukan kita dalam Barisan Dakwah. Mewujudkan Fakultas Teknik Islami.Amin, Wallahu'alam

Kamis, 05 Desember 2013

On 12/05/2013 03:25:00 PM by KBM FT UNM in    No comments

Bismillah,
Hadirilah Tabligh Akbar dengan Tema " MENYONGSONG GENERASI PEMBAHARU YANG MENGUBAH ZAMAN " dgn Pemateri: aL Ustadz Harman Tajang L.c ( Anggota Ikatan Ulama Sedunia ) , Insya Allah pada Sabtu 04 Safar 1435 H/07 Desember 2013 M
Pukul : 08.00 - Selesai.
Tempat: Masjid Ulil Albab (UNM Parangtambung)
#GRATIS
Terbuka u/ Umum
Ikhwa & akhawat.

Pelaksana:
LDF KBM FT-UNM

Jumat, 15 November 2013

On 11/15/2013 07:12:00 AM by KBM FT UNM in , ,    No comments

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Hari Jum’at merupakan hari yang mulia. Bukti kemuliaannya, Allah mentakdirkan beberapa kejadian besar pada hari tersebut. Dan juga ada beberapa amal ibadah yang dikhususkan pada malam dan siang harinya, khususnya pelaksanaan shalat Jum’at berikut amal-amal yang mengiringinya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. . . . " (HR. Abu Dawud, an Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)
Pada dasarnya, tidak dibolehkan menghususkan ibadah tertentu pada malam Jum’at dan siang harinya, berupa shalat, tilawah, puasa dan amal lainnya yang tidak biasa dikerjakan pada hari-hari selainnya. Kecuali, ada dalil khusus yang memerintahkannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda;
 “Janganlah menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad)
berikut sunnah-sunnah di hari jumat. Yuk ilmui lalu amalkan,

1. Memperbanyak Sholawat Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”(Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid
Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

5. Sholat Sunnah Semampunya
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

6. Mendengarkan Khotbah Jum'at
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat
Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

8. Membaca Surat Al Kahfi
“Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jum’at, Allah akan menerangi untuknya sebuah cahaya antara dirinya dan Al-Bait Al-‘Atîq (Ka’bah).” Diriwayatkan oleh Ad-Darimy, Al-Baihaqy

Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Berikut ini kami sebutkan beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.
1. Dari Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)
2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu,
"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)
3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.
Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”
Wallahu muwaffiq,
Takeit from voa-islam

Kamis, 26 September 2013

On 9/26/2013 07:05:00 AM by KBM FT UNM in , ,    No comments

       
Misalnya ketika kita lagi duduk-duduk di koridor kampus tiba-tiba ada orang yang langsung membentak kita hingga mencaci kita. Atau ada mahasiswa dari fakultas lain yang menuduh kita mencuri. Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa saja kita temui. Pastinya sakit sekali hatimu bila diperlakukan seperti itu, sakit hati plus geram. Coba apa yang kamu temukan pada dirimu ketika ada orang yang menyakitimu seperti itu?mungkin ada rasa benci dalam hati, panas, hingga keinginan untuk membalas. Balas dendam. Sikap seperti ini sebenarnya manusiawi, wajar terjadi pada diri kita. Rasa sakit tersebut akan tambah parah lagi apabila ternyata orang yang menyakiti kamu tadi ternyata adalah orang atau teman yang selalu kamu berikan kebaikan.
Air susu dibalas air tuba katanya. Huh… mau diapakan orang seperti ini?
Sadar Dulu
Sebelum kamu memutuskan untuk membalas dendam, cobalah renungkan kembali perkara penting berikut ini. Cobalah sadari bahwa kamu sebenarnya tidak hidup di dunia sendirian. Benar bukan? Ada banyak manusia yang hidup disekitar kamu. Nah, siap hidup di tengah-tengah manusia maka harus siap pula kalau suatu saat terjadi benturan pemikiran, kepentingan dan masalah dengan orang lain. Karena manusia berbeda-beda dalam pikiran, moral dan prilaku, kebiasaan dan adat. Jadi wajar saja bila kamu akan menemukan konflik, atau kadang disakiti, dicurigai bahkan dihina oleh orang lain. Jadi jangan terburu melampiaskan kemarahan dan dendam pada orang lain. Pahami juga bahwa ada unsur lain yang juga ikut “ngipas-ngipasi” perseturuanmu dengan orang lain. Dulu nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda
“Setan mengalir dalam tubuh anak adam bersama mengalirnya darah di dalam pembuluhnya” (riwayat Al Bukhari)
Kalau kamu buru-buru marah dan balas dendam sama artinya memberikan kemenangan pada setan yang sudah merencanakan dan memprovokasi kamu berdua. Bias-bisa setan akan tertawa kegirangan melihat kamu berdua yang sama-sama muslim berkelahi karena masalah sepele.
Jadi, jalan terbaik untuk mengalahkan setan  adalah menahan diri dari terburu-buru marah. Syukur-syukur kamu segera melakukan hal kedua yang bias menDROP OUT(DO) setan dalam masalah ini. yaitu segera memberikan maaf pada temanmu yang salah tadi. Emm, bila kamu benar-benar mampu menahan marah, mengendalikan diri dan tak membalas berarti kamu menyimpan energy dahsyat dalam dirimu. Energy ini akan semakin membuatmu semakin kuat dan  tambah kuat bila semakin dilatih dan diasah. Ya, inilah orang yang kuat dan penuh energy sejati. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam gulat, namun orang yang kuat sebenarnya adalah orang yang mampu menguasai dirinya di saat marah.”(muttafaq alaih)
Nah, benar kan? Orang yang mampu mengangkat besi seberat 10 kilogram atau 20 kilogram memang disebut kuat secara fisik, tapi belum bias dikatakan sebagai manusia terkuat. Manusia yang kuat dan penuh energy adalah orang yang sanggup menahan diri dari melampiaskan kemarahannya. Tidak terburu membalas orang yang berbuat buruk pada kita, atau kerabat kita.
Gaya orang besar VS Anak Manja
Coba kita lihat karakter manusia-manusia istimewa dan penuh energy seperti umar bin Khattab. “Kullun naasi minni fi hillin” katanya. Semua orang terhadapku sudah kuhalalkan, begitu kurang lebih artinya. Dia maafkan muslim manapun, termasuk yang pernah berbuat buruk terhadapnya. Kamu sudah seperti ini atau belum, tanyakan pada dirimu masing-masing.
Orang-orang berkarakter seperti umar inilah yang kuat dan penuh energy. Sebaliknya orang yang selalu melampiaskan dendam dan kemarahannya itu kenaka-kanakan banget. Misalnya gara-gara ibu tidak ngasih uang jajan atau tidak dibelikan motor-motoran si anak merajuk, ngambek dan ogah makan. Balas dendam ala si kecil.
Sang pendendam tidak ada bedanya dengan si anak manja ini. Walau badan sudah gedhe,umur semakin tua namun bila tak bias menahan kemarahan dan dendam maka dia tidak ada bedanya dengan anak manja tadi. Saudaraku yang ku cintai karena Allah, enggak suah nunjuk-nunjuk orang lain tentang masalah ini, namun setiap kita memang harus senantiasa mengoreksi diri, setuju?
Karakter buruk pemarah tidak ditemukan pada manusia-manusia besar, pemilik jiwa-jiwa teladan dan pemimpin sejati. Mereka tidak menganggap kemarahan dan dendam sebagai bentuk keberhasilan apalagi kesuksesan dalam hidup. Tapi sukses besar menurut ‘manusia besar’ adalah memberikan maaf pada orang lain. Manusia besar akan selalu ingat pada keberuntungan gedhe yang disebutkan dalam ayat yang artinya,
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fussilat : 35)
Yaitu balaslah keburukan dengan kebaikan. Balas saja kejelekan dengan kebaikan, kesalahan dengan kemaafan, kemarahan dengan kesabaran.
Dengan cara yang lebih baik di sini diantaranya dengan mengucapkan salam apabila berjumpa dengan orang yang memusuhi, atau ada juga yang berjabat tangan apabila bertemu. Demikian kata Mujahi dan Atha’, dua ulama besar di amas tabi’in.
Ternyata memaafkan tidak membuat hati jadi sumpek dan pikiran kusut atau dahi berkerut. Bahkan sebaliknya, memaafkan malahn membuat hati lebih longgar dada lebih lebar dan semua urusan jadi kelar. Bahkan orang yang memusuhimu pun akan jadi sadar. “Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”
Musuh bebuyutan tujuh turunan pun bias menjelma menjadi teman yang kelewat akrab. Luar biasa bukan?
Keberuntungan orang yang gemar memaafkan belum  lagi usai. Ia akan dijanjikan pahala besar oleh Allah, dan bias masuk surge yang penuh dengan kenikmatan.
Sukses besar ini tak pernah diaraih oleh orang-orang yang memiliki sifat pemarah, hobi membenci apalagi suka balas dendam.
Kamulah yang Mulia
Keberuntungan bersifat memaafkan belum ada habis-habisnya. Orang yang gemar memaafkan akan semakin mulia di sisi Allah. Jangan lupa, kalau seseorang sudah mulia di sisi Allah pasti ia akan jadi mulia juga di tengah-tengah manusia. Ia nggak bahkan kalah tinggi dibandingkan para pejabat, konglomerat atau pesawat (?). karena manusia memuliakan dan mencintai manusia dengan hatinya tidak sekedar badannya.
“Tidaklah Allah menambah pada seorang  hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang rendah hati karena Allah kecuali Allah akan meninggikan orang tersebut” (Riwayat Muslim)
Salah satu bentuk tawadhu’-kerendahan hati- adalah dengan memberikan maaf pada orang lain. Bahkan memaafkan merupakan bentuk kerendahan hati yang teristimewa. Selamat,berbahagiahlah dan sukses dengan pemeberian maafmau.Kamu hebat!
[dikutip dari majalah Elfata edisi 12 volume 11 2011,iam]
[download buletin]

Kamis, 12 September 2013

On 9/12/2013 06:12:00 AM by KBM FT UNM in    No comments


Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam , "Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah." Nabi Shallallohu’alaihi wasallam lalu bersabda, "Perbanyaklah mengingat kematian, maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul." (H.R Ath-Thabrani)
Salah satu kisah yang bias kita ambil pelajaran ialah kisah seorang pemuda yang tengah mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Antara kota Mekah dan Jeddah ia melaluinya dengan kecepatan di atas rata-rata. Lalu ia mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan.
Sebelumnya ia sedang menyalakan tape recordernya dengan mendengarkan lagu-lagu Barat seperti yang biasa didengarkan orang-orang. Orang yang melihat ke mobilnya mengatakan bahwa ia telah meninggal.
Seorang yang shaleh turun dari mobilnya ketika sedang lewat di jalan itu. Ketika orang-orang melihat pemuda yang mengalami kecelakaan itu, mereka menemukannya sudah mendekati ajalnya. Mereka berkata: “Ini adalah kesempatan untuk mengingatkannya untuk berdzikir kepada Allah dan membimbingnya untuk mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah. Mudah-mudahan saja ia dapat melafazhkannya”. Karena barangsiapa yang akhir ucapannya di kehidupan dunia ini adalah laa ilaaha illallaah, maka ia akan masuk surga.
           Orang-orang shaleh itu berkata: “Kami senang jika Allah menyelamatkan pemuda ini dari api neraka Jahannam melalui perantara kami. Maka kami pun mendekati pemuda itu dan membimbingnya untuk melafazhkan kalimat tauhid”. Mereka berkata: “Hai saudaraku! Ucapkanlah laa ilaaha illallaah!”.
Namun apa yang diucapkan oleh pemuda itu? Ia mengucapkan sesuatu yang biasa ia ucapkan sebelumnya. Jika seseorang lisannya terbiasa dengan dzikir kepada Allah, pada menjelang ajalnya dia tidak akan mengucapkan kata-kata selain berdzikir kepada Allah. Sedangkan orang yang hatinya terbiasa menuruti kata-kata setan dan hawa nafsunya, terbiasa dengan kenikmatan sesat, melakukan maksiat, membenci, mencela dan mengejek orang-orang shaleh, kata-kata apakah yang kira-kira akan ia ucapkan menjelang kematiannya?
Apakah yang diucapkan oleh pemuda itu?
Ia mengucapkan kata-kata yang merendahkan dirinya di dunia dan akhirat. Ia mengucapkan: “Aku tidak akan pernah melakukan shalat dan tidak akan pernah berpuasa. Sungguh terlaknat agamamu”.
Kalimat-kalimat seperti itulah yang biasa ia ucapkan. Jika beberapa orang shaleh menemuinya dan mengingatkannya untuk melakukan shalat, ia menjawab, “Aku tidak akan pernah shalat dan tidak akan pernah puasa.” Jika mereka menasehatinya, ia justru mencela dan mengejek agama.
Sungguh kita berlindung kepada Allah dari hal seperti itu. Maka lisannya pun terbiasa dengan kalimat-kalimat tadi, maka ketika menjelang akhirnya hayatnya pun ia mengucapkan hal itu. Kita memohon kepada Alah agar diberi kekokohan hati.
oleh lbnu Rajab dari Abdul Aziz bin Abi Rawwad : “Aku pernah menyaksikan seseorang yang sedang dalam keadaan sekarat, ia dibimbing untuk melafazhkan kalimat syahadah “Laa ilaahaillallaah“. Memang ia akhirnya dapat melafazhkan kalimat tersebut, namun sesungguhnya ia mengingkarinya. Kemudian ia meninggal.
Aku pun menanyakan perihal dirinya tersebut, ternyata ia adalah seorang pecandu minuman keras”.
Abdul Aziz mengatakan: “Takutlah kalian dari melakukan dosa-dosa karena dosa-dosa itu akan melemparkannya ke dalam neraka ”.
Kemudian ada kisah lainya ketika di katakan kepada seseorang menjelang kematiannya : ‘Ucapkanlah laa ilaaha illalllah!’ . Namun ia justru menjawab: “Ayo tambah terus! Tambah terus!” . Ternyata orang tersebut adalah seorang pegawai perkantoran dan ia sering memanipulasi penghitungan keuangan.
Imam Ibnu Qayyim meriwayatkan kisah lain dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi, ia menuliskan: “Dikatakan kepada seseorang dari mereka yanghendak meninggal: “Ucapkanlah laa ilaaha illallaah!” , namun ia menjawab: ‘Ah … ah … aku tidak dapat mengucapkannya’ .
Kisah lain Dikatakan kepada yang lainnya lagi, juga dalam keadaan hendak meninggal: ‘Ucapkanlah laa ilaaha illalIaah!’ , namun ia menjawab: “Skak mati dengan benteng, kamu kalah dariku (dalam permainan catur)” . Kemudian ia pun meninggal.
Semoga kita dijauhkan Allah ‘Azza wa Jalla dari akhir yang buruk,serta lebih menjadi motivasi menjauhi hal hal dilarang agama. [Sumber: Kisah-Kisah Su’ul Khotimah, Manshur bin Nashir al-’Awaji, penerbit Darussunnah.]
Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam bersabda, "Cukuplah maut sebagai pelajaran (guru) dan keyakinan sebagai kekayaan." (HR Ath-Thabrani)
Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib,
“Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.”
syeikh Ath-Thantawi bercerita, dikatakan bahwa sebuah bus penuh sesak dengan penumpang. Sopirnya selalu menoleh ke kiri dan kanan, dan secara tiba-tiba sopir itu menghentikan bus itu. Para penumpang pun bertanya, “Mengapa engkau menghentikan bus ini?” Sopir itu menjawab, “Saya berhenti untuk menghampiri orang tua yang melabai-lambaikan tangannya hendak turut menumpang bersama kita.” Para penumpang jadi bertanya-tanya, “Kami tidak melihat siapa-siapa.” Tapi
sopir itu melihatnya, “Lihat (itu) dia,” Mereka tetap bingung. “Kami tidak melihat seorang pun.” Sopir itu pun berkata, “Kini dia datang untuk naik bersama kita.” Semua penumpang berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat siapa-siapa.” Dan secara tiba-tiba pula sopir itu mati terduduk di atas kursinya.
Kematian sangat tiba-tiba, dan begitulah jalan kematiannya.
Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun tidak (pula)


memajukannya} (QS Al-A’raf: 34)
Maka kita sepantasnya sebagai seorang muslim sebaiknya jangan menunda amal dan bersegerah dalam kebaikan bahkan berlomba-lomba akan kebaikan
"Penundaanmu untuk beramal, karena menanti kesempatan yang lebih baik, adalah tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa".  (Al-Hikam).
Karena kebodohan yang mempengaruhi jiwa, maka kitaa berlindung dari salah satu penyakit ini yaitu kebodohan. Kebodohan disebabkan:
1  Karena mengutamakan dunia, padahal Allah berfirman, "Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal "(Q.S. Al A'laa 87:16,17)
2. Penundaan amal kepada masa yang kita tidak mengetahui, apakah masih ada atau tidak kesempatan karena sewaktu-waktu kematian bisa terjadi tanpa bisa diprediksi lebih dahulu.
3. Kemungkinan azam, niat menjadi lemah dan berubah. Ibnu Umar berkata, "Apabila engkau di waktu sore, janganlah menunggu pagi. Dan apabila engkau di waktu pagi janganlah engkau menunggu sore dan pergunakanlah kesehatanmu untuk persiapan sakitmu, dan pergunakanlah hidupmu untuk persiapan matimu".

Kematian adalah sebuah kemestian. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Yaitu kehidupan akhirat yang sedang kita tuju. Oleh karena itu, hendaknya setiap orang mempersiapkan bekal untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh tersebut. Wallahu a’lam [iam]
#diambil dari berbagai sumber

Minggu, 18 November 2012

On 11/18/2012 01:00:00 AM by KBM FT UNM in , ,    No comments
Perkembangan syiah yang kian hari kian melesat sangat perlu untuk diwaspadai.  Syiah, mirip buah kedondong, luarnya halus dalamnya kasar.   Di setiap daerah ahlussunnah (baca; islam) yang berkembang syiah di dalamnya, pasti akan kacau. Yakinlah!  Syiah begitu berbahaya. 

Waspadai Media pro-Syiah!

Mereka memicu kerusuhan di daerah-daerah basis ahlussunnah, misalnya saja di Suriah, Yaman dan Mesir.  Media-media yang kita baca maupun tonton berasumsi bahwa kerusuhan-kerusuhan tersebut akibat adanya instabilitas politik.  Sekali-kali tidak!  Itu konflik agama! Syiah yang ‘kerjaannya’ mencela sahabat-sahabat Nabi itu telah memicu semangat pembelaan di dalam dada kaum muslimin yang masih punya ghirah(kecemburuan) terhadap agamanya.  Kaum muslimin tidak rela jika para sahabat dicaci maki.  Mereka para sahabat yang telah direkomendasikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya dilecehkan dan dihina dengan penghinaan yang sangat rendah oleh setan-setan tersebut(baca; syiah tersebut).  Allah telah merekomendasikan para Sahabat radhiallohu ‘anhum ajma’in sebagaimana firman-Nya:

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah Menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung” (QS.At Taubah : 100)
Sayang, banyak kaum muslimin yang terkecoh dan mempercayai media-media tersebut yang notabene dimiliki oleh orang liberal (meskipun ngakunya muslim) bahkan orang kafir yang benci islam.  Pemilik media yang sudah dari sononya benci kepada islam tentu akan memberitakan hal-hal yang tidak berpihak kepada islam.  Jadilah islam diidentikkan sebagai agama yang melanggar HAM, agama teroris dan sejuta anggapan lain yang tidak tepat disematkan pada islam dan kaum muslimin.  Anggapan bahwa syiah merupakan salah satu madzhab dalam islam, pun disebarluaskan melalui media-media ini. Akhirnya, banyak kaum muslimin yang terprovokasi dan ikut-ikutan menganggap syiah ini adalah bagian dari Islam padahal islam yang mulia ini berlepas diri dari syiah.

Sebenarnya, syiah itu apa?

Apa itu syiah?  Jika ada yang bertanya padamu tentang apa itu syiah, tak perlu kau jawab dengan panjang lebar, cukup jawab saja bahwa syiah adalah agamanya orang-orang yang suka mencela sahabat nabi, titik.  Jika yang bertanya adalah seorang muslim yang masih lurus fitrahnya dan masih sehat akalnya tentu akan muncul rasa jengkel dan benci di dalam dadanya terhadap agama syiah ini.  Ia  pun akan mulai berhati-hati  dengan syiah ini serta mengajak keluarganya untuk berhati-hati.  Begitulah jawaban kita kepada orang awam jika ada yang bertanya.

Saya terkenang saat awal-awal saya mendengar kata “syiah”.  Saat itu saya berada pada kelas tiga SMA.  Suatu kali, guru agama saya mengamanahkan kepada kelompok saya untuk mempresentasikan perkembangan islam di Rusia.  Untuk melengkapi referensi, saya pun surfing di internet untuk mencari tahu tentang perkembangan islam di Rusia, ternyata hanya sedikit informasi yang bisa saya dapatkan.   Di antara yang sedikit itu, ada pernyataan bahwa penduduk muslim di rusia mayoritas sunni dan sebagian kecilnya syiah.  Sunni dan syiah, dua kata yang asing bagi saya.  Akhirnya, pada malam hari sebelum saya tampil untuk membawakan materi diskusi, saya mencoba menelepon salah seorang guru fisika di sekolah saya yang saya kenal bahwa beliau aktif di lembaga keislaman.  Tujuan utama saya menelpon adalah untuk menanyakan apa itu sunni dan syiah.  Jujur, saat ini saya sudah lupa apa yang beliau ucapkan malam itu melalui telepon tentang sunni dan syiah namun ada kata kunci yang teringat dengan jelas dalam kepalaku hingga hari ini yakni, “sunni itu ahlussunnah, ya kita-kita ini”.
Saat diskusi esok harinya, saya pun membawakan materi, saat menyinggung tentang sunni dan syiah saya hanya mengucapkan seperti apa yang disampaikan oleh guru saya tadi, “sunni itu ahlussunnah, ya kita-kita ini”.  Beruntung, hingga akhir diskusi tidak ada yang bertanya lebih jauh tentang apa itu sunni dan syiah, jika ada, pastilah saya tak dapat menjawabnya atau mungkin menjawab asbun (asal bunyi) bin sota (sok tahu).

Ringkas, namun kata-kata itu terngiang hingga kini.  Kupegang erat kata-kata tersebut.  Saat kaki ini menginjak dunia kampus yang di dalamnya berseliweran banyak pemahaman islam mulai dari yang lurus, bersih dan masih berpegang dengan qur’an dan sunnah sesuai pemahaman sahabat sampai yang sesat dan menyesatkan, semuanya ada di dunia kampus.  Istilah ‘syiah’ dan ‘sunni’ semakin sering kudengarkan di kampus.  Pengetahuanku tentang syiah ini memang masih belum bertambah, tapi kata-kata dari guruku tadi selalu kupegang, bahwa kita ini sunni.  Alhamdulillah, Allah masih menjagaku hari ini sebagai seorang Ahlussunnah dan insya Allah inilah yang akan kuyakini sampai mati.

Pelajaran Lain

Apa yang bisa kita kita ambil dari kisah di atas? 

Pertama, apa yang pertama kali disampaikan kepada kita itulah yang paling membekas dalam ingatan kita dan itulah yang menjadi doktrin dalam diri kita.  Jawaban sang guru, “sunni itu ahlussunnah, ya kita-kita ini” menjadi doktrin tersendiri dalam jiwa saya. 

Coba bayangkan, andaikan saat itu, guru saya tersebut menjawab “syiah itu ya kita-kita ini”.  Mungkin saya akan menjadi seorang syi’i (pengikut syiah) atau paling tidak, menjadi orang yang mendiamkan syiah dengan semua pencelaan yang mereka lakukan kepada sahabat.  Mengapa? Karena yang paling pertama tertanam dalam kepala saya adalah bahwa syiah itu tidak berbahaya sehingga tidak ada yang perlu diwaspadai dari syiah ini, toh guru yang saya pandang baik itu orang syiah juga.  Na’udzu billaahi min dzalik.

Kedua, pentingnya kita menyampaikan kepada masyarakat akan bahaya syiah ini (yang selalu menjelek-jelekkan para sahabat nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) agar masyarakat kita tidak ikut-ikutan latah membela mereka akibat ‘hasutan’ media yang keliru dalam memberitakan.
Sebagai wasiat, waspadalah Anda terhadap syiah, sampaikan kepada saudara, keluarga, sahabat, kenalan Anda serta kaum muslimin akan bahaya syiah yang selalu menjelek-jelekkan sahabat nabi.  Semoga Allah menetapkan hati kita di atas kebenaran. Amin.

Makassar, 4 Muharram 1434/18-11-2013
AMR

Senin, 08 Oktober 2012

On 10/08/2012 08:18:00 AM by KBM FT UNM in    1 comment
Seorang ikhwah baru saja menempati kostnya yang baru. Ia sendirian di kamar melepas lelah sambil menatap langit-langit. Kesibukan menyelenggarakan training keislaman di Musholla tadi membuat ia baru bisa merebahkan badannya sekarang. Suasana hening, karena penghuni kost lainnya sedang pulang kampung. Dari balik dinding masih sedikit terdengar percakapan Ibu pemilik kost dengan anaknya.

Rabu, 03 Oktober 2012

On 10/03/2012 06:47:00 AM by KBM FT UNM in    No comments

Meninggalkan kemewahan dunia demi menggapai Surga. Itulah yang dilakukan Mus’ab bin Umair ketika masuk Islam. Dia pemuda kota Mekkah yang didambakan para ibu agar menjadi menantunya. Di samping tampan, perilakunya juga baik, murah senyum dan sopan, idaman dan pujaan para wanita. Hal itu dapat dipahami karena Mus’ab anak orang berada. Kedua Orang-tuanya kaya raya. Ia juga sangat dimanja. Apa pun yang ia minta, selalu dituruti kedua orang tuanya. Ketika pancaran cahaya Islam mulai menyebar di bumi Mekkah, orang-orang ribut membicarakan hal itu. Maka, berita tentang Muhammad saw pun terdengar juga di telinga Mus’ab. Ia penasaran, tertarik mengetahui lebih jauh tentang Nabi terakhir itu, serta ajaran yang dibawanya dan tengah disebarluaskannya.
Suatu hari terdengar kabar bahwa Muhammad SAW tengah berceramah di bukit Shoffa, di hadapan puluhan manusia. Dan Mus’ab pun menuju ke sana.
“Wahai keluarga Ghalib, keluarga Fihr dan keluarga Quraisy yang lain,” sabda Nabi saw, “kalau kukatakan di balik lembah ini ada segerombolan musuh hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?”
“Tentu, Muhammad. Sebab engkau belum pernah berbohong pada kami!” jawab mereka serentak.
“Ketahuilah, bahwa aku adalah Nabi terakhir yang diutus Allah untuk kalian umat manusia.”
Serentak yang mendengar jadi ribut. Paling marah Abu Jahal. “Celaka kau, Muhammad!” kutuknya sengit.
Berbeda dengan Mus’ab. Ia tidak demikian. Mendengar berita itu, hatinya tersentuh. Saat itu juga batinnya bertarung. Bingung. Hendak mempertahankan keyakinannya selama ini yang diwarisi dari nenek moyangnya yakni menyembah berhala, atau menyembah Allah Yang Esa sebagaimana ajaran Muhammad saw. Mus’ab gundah.
Di lain kesempatan, Mus’ab menemui Muhammad saw di rumah seorang penduduk Mekkah bernama Arqom. Ia mengutarakan kegelisahan hatinya, sekaligus bertanya banyak hal tentang Islam. Nabi pun menjelaskannya dengan rinci, halus dan mengena. Mus’ab terpesona. Gundah gulana jadi hilang. Perasaannya tenang. Di akhir pertemuan, Mus’ab mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam.
Ketika ibunya tahu tentang hal itu, ia marah besar. Mus’ab dihukum, dimasukkan dalam penjara-rumahnya. Ibunya berjanji tidak akan membebaskan Mus’ab sebelum Mus’ab kembali pada ajaran enek moyangnya -menyembah berhala-, dan keluar dari agama yang baru saja dipeluknya.
Namun, Mus’ab tetap sabar dan teguh mempertahankan keyakinannya terhadap Islam.
Hingga suatu ketika, tersiar kabar bahwa umat Islam Mekkah hendak berhijrah menuju Habasyah guna menyelamatkan akidah. Maka, karena cahaya Islam telah menancap dan merasuk dalam relung hati Mus’ab, pemuda itu pun berencana ikut mereka. Mus’ab terrpaksa mengelabuhi ibunya demi tercapainya tujuan satu ini. Ia pun berhasil lolos dari penjara rumahnya, kemudian ikut hijrah bersama umat, Islam lainnya menuju Habasyah.
Beberapa bulan kemudian umat Islam pulang kembali ke Makkah. Orang-orang Mekkah terkejut melihat keadaan Mus’ab.
“Pemuda itu, yang dahulu sering berpakaian bagus, necis dan rapi, kini keadaannya tak ubahnya seperti gelandangan. Pakaiannya compang-camping, banyak jahitan dan tambalan di mana-mana”.
Umat Islam pun banyak yang meneteskan air mata mengetahui keadaan Mus’ab ini. Mereka haru, sekaligus kagum. Mus’ab, ia rela melepaskan kemewahan dunia demi menjaga dan membela agama. Namun hati mereka juga sedikit bahagia karena Mus’ab masih selalu tersenyum seperti dulu. Seolah tak merasa menderita dengan keadaannya yang demikian.
Tepatnya 7 Syawal tahun ke-3 Hijriah, perang Uhud meletus. Mus’ab berada di garda terdepan barisan umat Islam. Saat itu umat Islam bisa dikatakan kalah perang. Umat Islam menderita banyak kerugian. Tentara Islam porak-poranda. Semua, disebabkan karena regu pemanah tidak mengindahkan instruksi Nabi saw agar tetap bertahan di tempat mereka meski bagaimana pun keadaannya.
Kondisi Nabi saw sendiri sangat riskan. Ia terdesak lawan dan mulai terluka. Melihat hal itu, Mus’ab menuju ke arahnya. Mus’ab melindungi nabi dari kepungan musuh. Bendera Islam yang semula dipegang Nabi saw kini pindah ke tangan Mus’ab. Pemuda itu berjuang ganda; melindungi Nabi saw sekaligus menjaga bendera Islam, Ia gigih bertarung membasmi para musuh Islam. Banyak korban berjatuhan di ujung pedangnya.
Suatu ketika, Mus’ab lengah. Saat itulah seorang pasukan kafir mengayunkan pedang tepat sasaran. Tangan kanan Mus’ab terbebas. Tangan itu putus, bendera itu ia pindah ke tangan kirinya. Namun belum sempurna tangan itu memegang tongkat bendera, lagi-lagi sebilah pedang berayun ke arahnya. Lengan kiri Mus’ab terputus lain jatuh di tanah dengan bermandi darah.
Kini bendera Islam dipegang Mus’ab rnenggunakan dagunya. Bendera itu bisa “tegak beberapa, saat, sebelum akhirnya sebilah tombak menancap tepat di uluh hati Mus’ab. Mus’ab tak mampu bertahan. Akhirnya ia pun roboh di tanah bersama bendera Islam yang dipertahankannya.
Setelah perang Uhud selesai, Nabi saw berdiri sedih di hadapan jenazah Mus’ab. Mus’ab yang berjasa besar pada Nabi saw dan umat Islam lainnya telah tiada. Nabi saw juga haru, sebab, ketika jenazah itu hendak dikafani, tak ada kain yang cukup menutupinya. Jenazah itu akhirnya hanya ditutup dengan kain burdah berukuran kecil. Jika kepala jenazah Mus’ab ditutupi, kedua kakinya kelihatan. Jika ganti kedua kakinya yang ditutupi, kepalanya jadi kelihatan. Maka Nabi saw pun bersabda, “Tutupkan kain itu di bagian kepalanya, sedang kedua kakinya tutupi dengan “rumput dzikir.”
“Ketika di Mekkah dulu, tak seorang pun kulihat pakaiannya lebih indah dan rambutnya lebih rapi dari kamu (Mus’ab). Tapi, di akhir hayatmu ini, rambutmu kusut masai, dan hanya ditutupi selembar kain burdah,” lanjut Nabi saw.
Mus’ab bin Umair, ia rela meninggalkan kemewahan dunia demi mempertahankan keyakinannya.

Demikian kisah kekuatan peribadi seorang hamba Allah dalam mempertahankankebenaran dan kesucian Islam. Beliau jugalah merupakan pemuda dakwah yang pertama mengetuk setiap pintu rumah di Madinah sebelum berlakunya hijrah.
Kisahnya mempamerkan usaha dan pengorbanannya yang tinggi untuk menegakkan kebenaran. Semua itu adalah hasil proses tarbiyah yang dilaksanakan oleh Rasulullah.
Mus’ab telah menjadi saksi kepada kita akan ketegasan mempertahankan aqidah yang tidak berbelah bagi terhadap Islam sekalipun teruji antara kasih sayang kepada ibunya dengan keimanan. Mus’ab lebih mengutamakan kehidupan Islam yang serba sederhana berbanding darjat dan kehidupan serba mewah. Dia telah menghabiskan umurnya untuk Islam, meninggalkan kehebatan dunia, berhijrah zahir dan batin untuk mengambil kehebatan ukhrawi yang sejati sebagai bekalan akhirat. Lalu bagaimana dengan kita? Bisakah pemeuda seperti kita meneladani keutamaan-keutamaan dari  Mus’ab bin Umair. Cukup diam dan jawablah pertanyaaan itu dalam hati ita masing-masing. Semoga Allah selalu meringankan langkah-langkah  kita untuk terus berproses menjadi pemuda yang paham dengan keislamannya.
http://jnukmi.uns.ac.id/2011/10/23/kisah-inspiratif-musab-bin-umair/

Kamis, 26 Juli 2012

On 7/26/2012 02:51:00 AM by KBM FT UNM in    No comments
Abu Ubaidah bin Jarah ra. lahir di Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarah yang dijuluki dengan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan, dia disenangi oleh semua orang yang melihatnya, siapa yang mengikutinya akan merasa tenang.

Masuk Islam dari sejak dini:


Abu Ubaidah termasuk orang yang masuk Islam dari sejak dini, dia memeluk Islam satu hari setelah Abu Bakar sidik r.a. memeluk Islam. Dia masuk Islam bersama Abdurrahman bin Auf, Usman bin Mazun dan Arqom bin Abil Arqom di tangan Abu Bakar Sidik. Abu Bakar lah yang membawakan mereka menemui Rasulullah saw. untuk menyatakan syahadat di depan beliau.
Abu Ubaidah sempat mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah saw. Dia lah yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang Badar, sehingga ayat Alquran turun mengenai dia seperti tertera dalam suarah Al Mujadilah ayat 22.

Artinya, "Engkau tidak menemukan kaum yang beriman kepada Allah dan hari kiamat yang mengasihi orang-orang yang menentang Allah swt. dan Rasulullah, walaupun orang tersebut ayah kandung, anak, saudara atau keluarganya sendiri. Allah telah mematri keimanan di dalam hati mereka dan Dia bekali pula dengan semangat. Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal di dalamnya. Akan menyenangi mereka, di pihak lain mereka pun senang dengan Allah. Mereka itulah perajurit Allah, ketahuilah bahwa perajurit Allah pasti akan sukses. (Al-Mujadilah, 22)

Gagah dan Jujur:
Rasulullah saw. menjulukinya dengan seorang yang "Gagah dan Jujur". Suatu ketika datang sebuah delegasi dari kaum Kristen menemui Rasulullah saw. Mereka mengatakan, "Ya Ayah Kasim! Kirimkanlah bersama kami seorang sahabatmu yang engkau percayai untuk menyelesaikan perkara kebendaan yang sedang kami pertengkarkan, karena kaum muslimin di pandangan kami adalah orang yang disenangi." Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, "Datanglah ke sini nanti sore, saya akan kirimkan bersama kamu seorang yang 'gagah dan jujur'."

Dalam kaitan ini, Umar bin Khatab r.a. mengatakan, "Saya berangkat mau salat Zuhur agak cepat, sama sekali bukan karena ingin ditunjuk sebagai delegasi, tetapi karena memang saya senang pergi salat cepat-cepat. Setelah Rasulullah selesai mengimami salat Zuhur bersama kami, beliau melihat ke kiri dan ke kanan. Saya sengaja meninggikan kepala saya agar beliau melihat saya, namun beliau masih terus membalik-balik pandangannya kepada kami. Akhirnya beliau melihat Abu Ubaidah bin Jarah, lalu beliau memanggilnya sambil bersabada, 'Pergilah bersama mereka, selesaikanlah kasus yang menjadi perselisihan di antara mereka dengan adil.' Lalu Abu Ubaidah pun berangkat bersama mereka."

Sikapnya Dalam Peristiwa Saqifah:
Sepeninggal Rasulullah saw. Umar bin Khatab r.a. mengatakan kepada Abu Ubaidah bin Jarah di hari Saqifah, "Ulurkan tanganmu! Agar saya baiat kamu, karena saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Sungguh di setiap kaum terdapat orang jang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah.' Lalu Abu Ubaidah menjawab, 'Saya tidak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah saw. menjadi imam kita di waktu salat, oleh sebab itu kita seyogianya membuatnya jadi imam sepeninggal Rasulullah saw.

Jihadnya:
Abu Ubaidah bin Jarah r.a. ikut partisipasi dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu mempunyai andil besar dalam setiap peperangan tersebut. Dia berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah dia berhasil menaklukkan semua negeri tersebut.

Ketika wabah penyakit Taun merajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Khatab r.a. mengirim surat untuk memanggil kembali Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi, "Hai Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu, kalau kamu memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di tengah-tengah serdadu muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah saya dibebaskan dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini." Setelah Umar r.a. membaca surat itu, dia menangis, sehingga para hadirin bertanya, "Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?" Umar menjawabnya, "Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu."

Biografinya:
Sepeninggal Abu Ubaidah r.a. Muaz bin Jabal berpidato di hadapan kaum muslimin yang berisi, "Hai sekalian kaum muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari dia. Oleh sebab itu kasihanilah dia, semoga kamu akan dikasihani Allah."

Wafatnya:
Menjelang kematian Abu Ubaidah r.a. dia memesankan kepada serdadunya sbb., "Saya pesankan kepada kalian sebuah pesan, jika kalian terima, kalian akan baik, 'Dirikanlah salat, bayar zakat, puasalah bulan Ramadan, berdermalah, tunaikan ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, karena betapapun seorang melakukan seribu upaya, dia pasti akan menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap pribadi manusia, oleh sebab itu semua mereka pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat...Assalamu alaikum warahmatullah'."
Kemudian beliau melihat kepada Muaz bin Jabal r.a. dan mengatakan, "Ya Muaz! Imamilah salat mereka." Setelah itu, Abu Ubaidah r.a. pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Source: http://azharjaafar.blogspot.com

Selasa, 24 Juli 2012

On 7/24/2012 10:38:00 PM by KBM FT UNM in    No comments
Tidak banyak yang dikisahkan oleh Al-Quran tentang Nabi Yunus sebagaimana yang telah dikisahkan tentang nabi-nabi Musa, Yusuf dan lain-lain. Dan sepanjang yang dapat dicatat dan diceritakan oleh para sejarawan dan ahli tafsir tentang Nabi Yunus ialah bahawa beliau bernama Yunus bin Matta. Ia telah diutuskan oleh Allah untuk berdakwah kepada penduduk di sebuah tempat bernama "Ninawa" yang bukan kaumnya dan tidak pula ada ikatan darah dengan mereka. Ia merupakan seorang asing mendatang di tengah-tengah penduduk Ninawa itu. Ia menemui mereka berada di dalam kegelapan, kebodohan dan kekafiran, mereka menyembah berhala menyekutukan kepada Allah.

Yunus membawa ajaran tauhid dan iman kepada mereka, mengajak mereka agak menyembah kepada Allah yang telah menciptakan mereka dan menciptakan alam semesta, meninggalkan persembahan mereka kepada berhala-berhala yang mereka buat sendiri dari batu dan berhala-berhala yang tidak dapat membawanya manfaaat atau mudarat bagi mereka. Ia memperingatkan mereka bahawa mereka sebagai manusia makhluk Allah yang utama yang memperoleh kelebihan di atas makhluk-makhluk yang lain tidak sepatutnya merendahkan diri dengan menundukkan dahi dan wajah mereka menyembah batu-batu mati yang mereka pertuhankan, padahal itu semua buatan mereka sendiri yang kadang-kadang dan dapat dihancurkan dan diubah bentuk dan memodelnya. Ia mengajak mereka berfikir memperhatikan ciptaan Allah di dalam diri mereka sendiri, di dalam alam sekitar untuk menyedarkan mereka bahawa Tuhan pencipta itulah yang patut disembah dan bukannya benda-benda ciptaannya.

Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Kerananya mereka tidak dapat menerimanya untuk menggantikan ajaran dan kepercayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka yang sudah menjadi adat kebiasaaan mereka turun temurun. Apalagi pembawa agama itu adalah seorang asing tidak seketurunan dengan mereka.
Mereka berkata kepada Nabi Yunus: "Apakah kata-kata yang engkau ucapkan itu dan kedustaan apakah yang engkau anjurkan kepada kami tentang agama barumu itu? Inilah tuhan-tuhan kami yang sejati yang kami sembah dan disembahkan oleh nenek moyamg kami sejak dahulu. Alasan apakah yang membenarkan kami meninggalkan agama kami yang diwariskan oleh nenek moyang kami dan menggantikannya dengan agama barumu? Engkau adalah seorang yang ditengah-tengah kami yang datang untuk merusakkan adat istiadat kami dan mengubah agama kami dan apakah kelebihan kamu diatas kami yang memberimu alasan untuk mengurui dan mengajar kami. Hentikanlah aksimu dan ajak-ajakanmu di daerah kami ini. Percayalah bahawa engkau tidak akan dapat pengikut diantara kami dan bahawa ajaranmu tidak akan mendapat pasaran di antara rakyat Ninawa yang sangat teguh mempertahankan tradisi dan adat istiadat orang-orang tua kami."

Barkata Nabi Yunus menjawab: "Aku hanya mengajak kamu beriman dan bertauhid menurut agama yang aku bawa sebagai amanat Allah yang wajib ku sampaikan kepadamu. Aku hanya seorang pesuruh yang ditugaskan oleh Allah untuk mengangkat kamu dari lembah kesesatan dan kegelapan menuntun kamu ke jalan yang benar dan lurus menyampaikan kepada kamu agama yang suci bersih dari benih-benih kufur dan syirik yang merendahkan martabat manusia yang semata-mata untuk kebaikan kamu sendiri dan kebaikan anak cucumu kelak. Aku sesekali tidak mengharapkan sesuatu upah atau balas jasa daripadamu dan tidak pula menginginkan pangkat atau kedudukan. Aku tidak dapat memaksamu untuk mengikutiku dan melaksanakan ajaran-ajaranku. Aku hanya mengingatkan kepadamu bahawa bila kamu tetap membangkang dan tidak menghiraukan ajakanku , tetap menolak agama Allah yang aku bawa, tetap mempertahankan akidahmu dan agamamu yang bathil dan sesat itu, nescaya Allah kelak akan menunjukkan kepadamu tanda-tanda kebenaran risalahku dengan menurunkan azab seksa-Nya di atas kamu sebagaimana telah dialami oleh kaum terdahulu iaitu kaum Nuh, Aad dan Tsamud sebelum kamu.

Mereka menjawab peringatan Nabi Yunus dengan tentangan seraya mengatakan: "Kami tetap menolak ajakanmu dan tidak akan tunduk pada perintahmu atau mengikut kemahuanmu dan sesekali kami tidak akan takut akan segala ancamanmu. Cubalah datangkan apa yang engkau ancamkan itu kepada kami jika engkau memang benar dalam kata-katamu dan tidak mendustai kami."
Nabi Yunus tidak tahan tinggal dengan lebih lama di tengah-tengah kaum Ninawa yang berkeras kepala dan bersikap buta-tuli menghadapi ajaran dan dakwahnya. Ia lalu meninggalkan Ninawa dengan rasa jengkel dan marah seraya memohon kepada Allah untuk menjatuhkan hukumannya atas orang-orang yang membangkang dan berkeras kepala itu.

Sepeninggalan Nabi Yunus penduduk Ninawa mulai melihat tanda-tanda yang mencemaskan seakan-akan ancaman Nabi Yunus kepada mereka akan menjadi kenyataan dan hukuman Allah akan benar-benar jatuh di atas mereka membawa kehancuran dan kebinasaan sebagaimana yang telah dialami oleh kaum musyrikin penyembah berhala sebelum mereka. Mereka melihat keadaan udara disekeliling Ninawa makin menggelap, binatang-binatang peliharaan mereka nampak tidak tenang dan gelisah, wajah-wajah mereka tanpa disadari menjadi pucat tidak berdarah dan angin dari segala penjuru bertiup dengan kecangnya membawa suara gemuruh yang menakutkan.

Dalam keadaan panik dan ketakutan , sedarlah mereka bahawa Yunus tidak berdusta dalam kata-katanya dan bahawa apa yang diancamkan kepada mereka bukanlah ancaman kosong buatannya sendiri, tetapi ancaman dari Tuhan. Segeralah mereka menyatakan taubat dan memohon ampun atas segala perbuatan mereka, menyatakan beriman dan percaya kepada kebenaran dakwah Nabi Yunus seraya berasa menyesal atas perlakuan dan sikap kasar mereka yang menjadikan beliau marah dan meninggalkan daerah itu.

Untuk menebus dosa, mereka keluar dari kota dan beramai-ramai pergi ke bukit-bukit dan padang pasir, seraya menangis memohon ampun dan rahmat Allah agar dihindarkan dari bencana azab dan seksaan-Nya. Ibu binatang-binatang peliharaan mereka dipisahkan dari anak-anaknya sehingga terdengar suara teriakan binatang-binatang yang terpisah dari ibunya seolah-olah turut memohon keselamatan dari bencana yang sedang mengancam akan tiba menimpa mereka.
Allah yang Maha Mengetahui bahawa hamba-hamba-Nya itu jujur dalam taubatnya dan rasa sesalannya dan bahawa mereka memang benar-benar dan hatinya sudah kembali beriman dan dari hatinya pula memohon dihindarkan dari azab seksa-Nya, berkenan menurunkan rahmat-Nya dan mengurniakan maghfirat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang dengan tulus ikhlas menyatakan bertaubat dan memohon ampun atas segala dosanya. Udara gelap yang meliputi Ninawa menjadi terang, wajah-wajah yang pucat kembali merah dan ebrseri-seri dan binatang-binatang yang gelisah menjadi tenang, kemudian kembalilah orang-orang itu ke kota dan kerumah masing-masing dengan penuh rasa gembira dan syukur kepada Allah yang telah berkenan menerima doa dan permohonan mereka.

Berkatalah mereka didalam hati masing-masing setelah merasa tenang, tenteram dan aman dari malapetaka yang nyaris melanda mereka: "Di manakah gerangan Yunus sekarang berada? Mengapa kami telah tunduk kepada bisikan syaitan dan mengikuti hawa nafsu, menjadikan dia meninggalkan kami dengan rasa marah dan jengkel kerana sikap kami yang menentang dan memusuhinya. Alangkah bahagianya kami andaikan ia masih berada di tengah-tengah kami menuntun dan mengajari kami hal-hal yang membawa kebahagiaan kami di dunia dan di akhirat. Ia adalah benar-benar rasul dan nabi Allah yang telah kami sia-siakan. Semoga Allah mengampuni dosa kami."

Adapun tentang keadaan Nabi Yunus yang telah meninggalkan kota Ninawa secara mendadak, maka ia berjalan kaki mengembara naik gunung turun gunung tanpa tujuan. Tanpa disadari ia tiba-tiba berada disebuah pantai melihat sekelompok orang yang lagi bergegas-gegas hendak menumpang sebuah kapal. Ia minta dari pemilik kapal agar diperbolehkan ikut serta bersama lain-lain penumpang. Kapal segera melepaskan sauhnya dan meluncur dengan lajunya ke tengah laut yang tenang. Ketenangan laut itu tidak dapat bertahan lama, kerana sekonyong-konyong tergoncang dan terayunlah kapal itu oleh gelombang besar yang datang mendadak diikuti oleh tiupan angin taufan yang kencang, sehingga menjadikan juru mudi kapal berserta seluruh penumpangnya berada dalan keadaan panik ketakutan melihat keadaan kapal yang sudah tidak dapat dikuasai keseimbangannya.

Para penumpang dan juru mudi melihat tidak ada jalan untuk menyelamatkan keadaan jika keadaan cuaca tetap mengganas dan tidak mereda, kecuali dengan jalan meringankan beban berat muatan dengan mengorbankan salah seorang daripada para penumpang. Undian lalu dilaksanakan untuk menentukan siapakah di antara penumpang yang harus dikorbankan. Pada tarik pertama keluarlah nama Yunus, seorang penumpang yang mereka paling hormati dan cintai, sehingga mereka semua merasa berat untuk melemparkannya ke laut menjadi mangsa ikan.

Kemudian diadakanlah undian bagi kali kedua dengan masing-masing penumpang mengharapkan jangan sampai keluar lagi nama Yunus yang mereka sayangi itu, namun melesetlah harapan mereka dan keluarlah nama Yunus kembali pada undian yang kedua itu. Demikianlah bagi undian bagi kali yang ketiganya yang disepakati sebagai yang terakhir dan yang menentukan nama Yunuslah yang muncul yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan kapal dan para penumpang yang lain.
Nabi Yunus yang dengan telitinya memperhatikan sewaktu undian dibuat merasa bahawa keputusan undian itu adalah kehendak Allah yang tidak dapat ditolaknya yang mungkin didalamnya terselit hikmah yang ia belum dapat menyelaminya. Yunus sedar pula pada saat itu bahawa ia telah melakukan dosa dengan meninggalkan Ninawa sebelum memperoleh perkenan Allah, sehingga mungkin keputusan undian itu adalah sebagai penebusan dosa yang ia lakukan itu. Kemudian ia beristikharah menghenimgkan cipta sejenak dan tanpa ragu segera melemparkan dirinya ke laut yang segera diterima oleh lipatan gelombang yang sedang mengamuk dengan dahsyatnya di bawah langit yang kelam-pekat.

Selagi Nabi Yunus berjuang melawan gelombang yang mengayun-ayunkannya, Allag mewahyukan kepada seekor ikan paus untuk menelannya bulat-bulat dan menyimpangnya di dalam perut sebagai amanat Tuhan yang harus dikembalikannya utuh tidak tercedera kelak bila saatnya tiba.
Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan paus yang membawanya memecah gelombang timbul dan tenggelam ke dasar laut merasa sesak dada dan bersedih hati seraya memohon ampun kepada Allah atas dosa dan tindakan yang salah yang dilakukannya tergesa-gesa. Ia berseru didalam kegelapan perut ikan paus itu: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Engkau, Maha sucilah Engkau dan sesungguhnya aku telah berdosa dan menjadi salah seorang dari mereka yang zalim."

Setelah selesai menjalani hukuman Allah , selama beberapa waktu yang telah ditentukan, ditumpahkanlah Nabi Yunus oleh ikan paus itu yang mengandungnya dan dilemparkannya ke darat . Ia terlempar dari mulut ikan ke pantai dalam keadaan kurus lemah dan sakit. Akan tetapi Allah dengan rahmat-Nya menumbuhkan di tempat ia terdampar sebuah pohon labu yang dapat menaungi Yunus dengan daun-daunnya dan menikmati buahnya.
Nabi Yunus setelah sembuh dan menjadi segar kembali diperintahkan oleh Allah agar pergi kembali mengunjungi Ninawa di mana seratus ribu lebih penduduknya mendamba-dambakan kedatangannya untuk memimpin mereka dan memberi tuntunan lebih lanjut untuk menyempurnakan iman dan aqidah mereka. Dan alangkah terkejutnya Nabi Yunus tatkala masuk Ninawa dan tidak melihat satu pun patung berhala berdiri. Sebaliknya ia menemui orang-orang yang dahulunya berkeras kepala menentangnya dan menolak ajarannya dan kini sudah menjadi orang-orang mukmin, soleh dan beribadah memuja-muji Allah s.w.t.

Pokok cerita tentang Yunus terurai di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah Yunus ayat 98, surah Al-Anbiaa' ayat 87, 88 dan surah Ash-Shaffaat ayat 139 sehingga ayat 148. (kabarislam.com)

Jumat, 29 Juni 2012

On 6/29/2012 09:34:00 PM by KBM FT UNM in    No comments

Julukannya Abu ‘Abdirrahman, ayahnya orang Turki yang bekerja kepada seorang pedagang dari Bani Handzalah. Ibunya juga orang Turki dari suku Khawarizmi. Beliau dilahirkan tahun 118 H, ada yang berpendapat 119 H.
Dari Al Hasan, ia Berkata, “Ibunda Ibnul Mubarak adalah orang Turki. Kemiripan Ibnul Mubarak dengan orang Turki sangat mencolok. Kalau beliau membuka bajunya, tidak terlihat banyak bulu pada dada. Salah seorang keluarganya memberitahu aku bahwa beliau belum pernah Sekalipun masuk ke tempat pemandian.”
Rumah Ibnul Mubarak sangat besar, terletak di Marwa. Halaman rumahnya berukuran 50 x 50 hasta (1 hasta sekitar 50 cm). jika anda ingin melihat ahli ilmu, ahli ibadah dan lelaki berwibawa yang juga dihormati di Marwa, maka anda akan jumpai rumah tersebut. Setiap hari, banyak sekali orang yang berkumpul di rumahnya. Mereka bersama-sama mengkaji ilmu hingga ibnul Mubarak keluar dari kamarnyadan mereka pun berkumpul di sekeliling beliau. Ketika ibnul Mubarak pindah ke Kufah, maka beliau tinggal di sebuah rumah kecil. Biasanya beliau keluar untuk shalat, lalu kembali lagi kerumahnya. Beliau sangat jarang keluar rumah dan tidak pernah lagi didatangi banyak orang. Ketika itu, aku Berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdurrahman, tidakkah engkau merasa terasing disini, jika engkau bandingkan dengan rumahmu di Marwa?” beliau menjawab, “Aku menghindari marwa karena hendak menghindari sesuatu yang engkau sukai, dan sekarang aku tinggal disini karena menyukai sesuatu yang engkau membencinya. Dulu, saat aku di Marwa, tidak ada masalahpun kecuali mereka adukan kepadaku dan mereka mengatakan, “Tanyakan kepada Ibnul Mubarak, sedangkan di sini aku terbebas dari semua itu.”
“Jadilah orang yang tak dikenal, yang membenci ketenaran, dan jangan tampakkan bahwa dirimu tidak suka terkenal untuk mengangkat martabar diri. Sebab, kalau engkau mengaku-aku zuhud itu sama artinya kezuhudanmu telah roboh, karena engkau menyeret dirimu agar disanjung dan dipuji.”
Suatu hari aku bersama Ibnul Mubarak mendatangi amta air. Orang-orang biasa minum dari sini. Beliau mendekat ke mata air tersebut dan minum dari sana, Sementara orang-orang tidak mengenal beliau. Mereka berdesak-desakan dan mendorong beliau. Ketika beliau keluar dari sana, beliau Berkata kepadaku, “Seperti inilah hidup yang sebenarnya,” Maksud beliau ketika kita tidak dikenal dan tidak dihormati oleh orang lain.
Seorang ulama’ bernama ‘Abdurrahman bin Mahdi Berkata, “Kedua mataku tidak pernah melihat orang yang lebih tulus menasehati umat islam dari Ibnu Mubarak.”
Dari Husain bin Hasan Al Mirwazi ia Berkata, “Ibnul Mubarak Berkata, “Jadilah orang yang tak dikenal, yang membenci ketenaran, dan jangan tampakkan bahwa dirimu tidak suka terkenal untuk mengangkat martabar diri. Sebab, kalau engkau mengaku-aku zuhud itu sama artinya kezuhudanmu telah roboh, karena engkau menyeret dirimu agar disanjung dan dipuji.”
Dari Asy’ats bin Syu’bah Al Mushishi, ia berkata, “Suatu ketika Hurun Ar Rasyid datang ke Riqqoh (nama suatu daerah), lalu orang-orang keluar menyambut Ibnul Mubarak. Mereka berdesak-desakan hingga sandal-sandal putus dan debu berterbangan. Lalu muncullah seorang wanita, budak khalifah Harun Ar Rasyid, dari sebuh bangunan kayu. Ketika melihat orang-orang Begitu ramai, ia beratnya, “Ada apa?” orang-orang menjawab, “Orang alimdari KHurosan tiba di Riqqah, namanya ‘Abdullah bin Mubarak.” Maka wanita itu berkata, “Demi Allah, ini adalah raja, tapi bukan raja Harun yang tidak bisa mengumpulkan orang-orang kecuali dengan polisi dan tentara.”
Dari Qosim bin Muhammad, ia berkata, “Aku pernah berpergian bersama Ibnul Mubarak. Ketika itu, yang sering terlintas dalam pikiranku adalah, mengapa orang ini dilebihkan di atas kami sampai ia Begitu terkenal di kalangan manusia. Padahal, kalau dia shalat, toh kami juga shalat. Kalau dia berpuasa, kami juga berpuasa. Kalau dia berperang, kamipun juga berperang dan kalau dia berhaji, kamipun sama.”
Qosim melanjutkan, “Suatu malam, saat kami tengah melakukan perjalanan menuju Syam, kami makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampunya padam. Maka, salah satu dari kami keluar rumah untuk mencari penerangan. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa lampu. Maka aku lihat wajah Ibnu Mubarak, ternyata jenggotnya sudah basah dengan air mata. Melihat itu, aku Berkata dalam hati, “Kiranya dengan rasa takut seperti ini ia dilebihkan diatas kami.” Mungkin, ketika lampu padam dan suasana gelap gulita, beliau teringat hari kiamat.
Nu’aim bin Hammad Berkata, “Ibnul Mubarak lebih banyak duduk di rumah, maka ditanyakan kepada beliau, “Tidakkah anda merasa kesepian?” beliau menjawab, “Mana mungkin aku kesepian sementara aku bersama Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam (Yang beliau Maksud adalah bersama Hadits nabi shalallahu 'alaihi wasallam)
Demikianlah sekelumit kisah tentang sosok Ibnul Mubarak, tentunya masih sangat banyak riwayat-riwayat yang mengkisahkan tentang keagungan beliau. Semoga kita dapat senantiasa meneladai beliau amien. arrahmah.com